
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 1,82% ke level 67.777 pada Selasa (13/10), memperpanjang penurunan menjadi empat sesi berturut-turut. Pelemahan tersebut mengikuti aksi jual saham teknologi di Wall Street dan menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), terutama di tengah kenaikan biaya pendanaan.
Tekanan terbesar datang dari kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal perusahaan AI. Investor mulai mempertanyakan apakah investasi yang sangat besar pada infrastruktur AI nantinya mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang sebanding. Persaingan dari perusahaan chip China juga menambah tekanan setelah ChangXin Memory Technologies (CXMT) menunjukkan perkembangan dalam teknologi arsitektur chip barunya.
Sentimen semakin berat setelah CEO Broadcom Hock Tan mengatakan bahwa ledakan AI telah menarik investor dengan strategi yang menyerupai perjudian. Investor miliarder Ray Dalio juga menggambarkan kondisi sektor AI sebagai “classic bubble”, terutama ketika suku bunga meningkat dan investor mulai membutuhkan likuiditas. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan teknologi telah terlalu tinggi.
Aksi jual pun terlihat pada sejumlah saham utama Jepang. Kioxia Holdings anjlok 13,3%, SoftBank Group turun 8,5%, Tokyo Electron melemah 7,2%, Taiyo Yuden terkoreksi 4,9%, dan Advantest turun 2,9%. Pelemahan ini menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada perusahaan AI, tetapi juga menyebar ke perusahaan semikonduktor dan rantai pasok teknologi yang sebelumnya menjadi salah satu motor utama kenaikan Nikkei.
Newsmaker melihat, penurunan Nikkei kali ini bukan sekadar aksi ambil untung, tetapi juga mencerminkan perubahan persepsi investor terhadap risiko sektor AI. Jika biaya pinjaman terus meningkat sementara pertumbuhan laba tidak mampu mengimbangi besarnya investasi, tekanan terhadap saham teknologi dapat berlanjut. Namun, jika laporan keuangan perusahaan tetap kuat dan permintaan chip serta AI terus tumbuh, koreksi ini masih berpeluang menjadi fase normalisasi setelah reli panjang sektor teknologi.