
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Pasar saham Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Kamis (24/9) setelah kenaikan imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam beberapa dekade kembali menekan sentimen investor. Dow Jones Industrial Average turun untuk sesi ketiga berturut-turut, sementara S&P 500 bergerak terbatas dan Nasdaq cenderung stabil, karena pasar mempertimbangkan risiko suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama di tengah kuatnya ekonomi AS.
Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi setelah yield Treasury 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2004, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun kembali berada di level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve masih perlu mempertahankan kebijakan ketat karena tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada pertemuan Oktober berada di kisaran 70%, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi ini membuat investor mulai mempertanyakan berapa lama suku bunga tinggi akan bertahan.
Selain faktor moneter, kenaikan harga energi juga menjadi perhatian utama pasar. Harga minyak Brent kembali bergerak di atas US$106 per barel setelah meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan ketidakpastian hubungan AS-Iran. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan memberikan alasan tambahan bagi The Fed untuk tetap mempertahankan sikap hawkish.
Sentimen pasar sedikit membaik setelah laporan mengenai kemungkinan pembicaraan bertahap antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz. Namun, investor tetap berhati-hati karena harga minyak dan imbal hasil obligasi masih berada pada level tinggi yang dapat membebani pertumbuhan ekonomi dan valuasi saham.
Analisis Newsmaker: Pergerakan Wall Street saat ini menghadapi kondisi yang unik, yaitu ekonomi AS masih menunjukkan kekuatan, tetapi justru kekuatan tersebut membuat tekanan inflasi bertahan dan mendorong yield naik. Fokus investor berikutnya akan tertuju pada arah kebijakan The Fed, perkembangan harga minyak, serta apakah diplomasi AS-Iran mampu menurunkan risiko geopolitik.
Sumber: Newsmaker.id