
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Pasar saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan Kamis (24/9) setelah kenaikan imbal hasil obligasi global dan lonjakan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Indeks Stoxx Europe 600 turun 0,5%, sementara DAX Jerman melemah 0,6%, CAC Prancis turun 0,5%, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,2%, dan Swiss Market Index turun 0,2%. Investor masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah serta dampaknya terhadap kebijakan moneter bank sentral.
Tekanan utama datang dari pasar obligasi setelah kenaikan yield kembali membebani aset berisiko. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama karena inflasi energi kembali meningkat akibat ketegangan geopolitik. Kenaikan harga minyak membuat pasar khawatir biaya produksi perusahaan dan tekanan harga konsumen dapat kembali meningkat.
Sektor otomotif menjadi salah satu pemberat utama bursa Eropa. Saham Stellantis dan Renault di Prancis melemah, sementara Volkswagen, Porsche, BMW, hingga Volvo juga mengalami tekanan. Selain itu, sektor properti ikut bergerak turun karena kenaikan imbal hasil obligasi membuat biaya pendanaan meningkat bagi perusahaan-perusahaan yang sensitif terhadap suku bunga.
Dari sisi perusahaan, saham energi justru mencatatkan penguatan. Saham Shell naik setelah laporan bahwa perusahaan tersebut bersama LNG Canada Development tengah mendekati keputusan investasi untuk memperbesar kapasitas proyek gas alam di Kanada. Sementara itu, saham sektor pertambangan Rio Tinto turun setelah muncul laporan bahwa perusahaan berencana memperluas bisnis perdagangan logam.
Investor juga memperhatikan perkembangan kerja sama teknologi dan pertahanan. Ericsson dan Saab menandatangani nota kesepahaman untuk mengeksplorasi integrasi komunikasi berbasis darat dan satelit guna mendukung sektor pertahanan serta keamanan. Namun, saham kedua perusahaan tetap melemah mengikuti tekanan umum pasar.
Analisis Newsmaker : Pergerakan bursa Eropa saat ini menunjukkan bahwa investor masih berada dalam mode hati-hati. Kombinasi antara kenaikan minyak, meningkatnya yield obligasi, dan ketidakpastian geopolitik membuat pasar sulit mendapatkan momentum positif meskipun data ekonomi Eropa menunjukkan aktivitas bisnis yang lebih kuat. Ke depan, arah pasar akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan suku bunga global.
Sumber: Newsmaker.id