
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (25/9) setelah harapan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Meskipun serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi masih meningkatkan risiko geopolitik, investor lebih fokus pada peluang terbukanya jalur diplomasi.
Harga Brent crude turun sekitar 1% ke level US$105,52 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,8% ke US$92,93 per barel. Sepanjang pekan ini, Brent masih mencatat kenaikan sekitar 1,5%, sedangkan WTI mengalami penurunan sekitar 7,4% akibat tekanan dari perubahan ekspektasi pasokan.
Pasar energi mendapat sentimen positif setelah muncul laporan bahwa negosiator Amerika Serikat dan Iran sedang membahas kemungkinan kesepakatan bertahap. Rencana tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran serta kemungkinan pengurangan blokade ekonomi Amerika Serikat terhadap Tehran.
Perkembangan diplomasi tersebut membuat pasar mengurangi sebagian premi risiko geopolitik, meskipun ancaman terhadap pasokan belum sepenuhnya hilang. Serangan Houthi terhadap wilayah Saudi tetap menjadi perhatian karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia dan memiliki peran penting dalam stabilitas pasokan global.
Newsmaker melihat, harga minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara harapan perdamaian dan risiko konflik Timur Tengah. Jika kesepakatan AS–Iran berjalan dan aktivitas perdagangan melalui Selat Hormuz kembali normal, harga minyak berpotensi mendapat tekanan turun. Namun, eskalasi baru seperti serangan terhadap fasilitas energi dapat kembali mendorong Brent menuju level yang lebih tinggi.
Sumber: Newsmaker.id