
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Yen Jepang melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (30/10/2026), setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25%. Mata uang Jepang sempat menguat sekitar 0,4% hingga membawa pasangan USD/JPY turun menuju 157,12. Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar dan disepakati melalui pemungutan suara 8 berbanding 1. Meski suku bunga tidak berubah, pernyataan BOJ bahwa inflasi mendasar telah mencapai target 2% memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter Jepang masih berpotensi diperketat.
Penguatan yen didukung oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan setelah BOJ menilai tekanan inflasi domestik semakin berkelanjutan. Bank sentral juga menaikkan proyeksi inflasi dan mengingatkan adanya risiko kenaikan harga akibat mahalnya energi serta pelemahan nilai tukar yen. Selain itu, BOJ mengumumkan percepatan penjualan kepemilikan dana investasi yang diperdagangkan di bursa atau (ETF), dari sekitar 330 miliar yen menjadi 860 miliar yen per tahun mulai Januari 2027. Kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah lanjutan normalisasi moneter setelah bertahun-tahun Jepang menerapkan stimulus besar.
Di sisi lain, yen turut memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman di tengah pelemahan saham teknologi global. Kekhawatiran terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk obligasi pemerintah Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun sekitar 5,5 basis poin menjadi 2,78%. Namun, kenaikan harga minyak akibat risiko konflik Amerika Serikat dan Iran masih menjadi tantangan karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Kondisi tersebut dapat membatasi penguatan yen apabila biaya impor terus meningkat.
Arah yen akan dipengaruhi oleh pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember, perkembangan inflasi Jepang, serta pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Jika BOJ memperkuat sinyal pengetatan dan selisih suku bunga Jepang dengan AS menyempit, yen berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, apabila harga minyak terus meningkat atau The Fed kembali memberikan sinyal hawkish, pemulihan yen dapat menghadapi hambatan. Dalam pandangan kami, keputusan mempertahankan bunga kali ini tidak menunjukkan perubahan BOJ menjadi dovish. Justru pengakuan bahwa inflasi mendasar telah mencapai target membuka peluang penguatan yen lebih lanjut, meskipun volatilitas pasar global masih tinggi.