
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Bank of Japan (BOJ) mengejutkan pasar keuangan pada Jumat (30/10/2026) dengan mengumumkan percepatan penjualan kepemilikan dana investasi yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded funds (ETF). Bank sentral Jepang akan meningkatkan penjualan ETF dari sekitar 330 miliar yen menjadi 860 miliar yen per tahun berdasarkan nilai buku, mulai Januari 2027. Kebijakan tersebut diumumkan bersamaan dengan keputusan mempertahankan suku bunga di level 1,25%. Meski langkah ini berpotensi menambah pasokan saham di pasar, investor menilai dampaknya masih dapat diserap oleh aktivitas perdagangan bursa Jepang yang cukup besar.
Indeks Nikkei 225 sebelumnya mengalami tekanan akibat aksi jual saham teknologi global, tetapi sempat memangkas sebagian kerugiannya setelah pengumuman BOJ, meskipun masih melemah sekitar 2% pada perdagangan siang. Pelaku pasar menilai percepatan penjualan ETF tidak serta-merta akan menyebabkan penurunan besar karena nilainya relatif kecil dibandingkan aktivitas transaksi harian. Dengan perhitungan berdasarkan harga pasar, nilai ETF yang akan dijual diperkirakan mencapai sekitar 2,4 triliun yen per tahun. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian saham dalam indeks Topix sepanjang tahun ini mencapai sekitar 9 triliun yen. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pasar Jepang memiliki kapasitas perdagangan yang cukup besar untuk menghadapi tambahan pasokan secara bertahap.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya BOJ mengurangi stimulus moneter yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pembelian ETF dimulai pada 2010 untuk mendukung pasar saham dan aktivitas ekonomi, kemudian diperbesar selama kepemimpinan mantan Gubernur Haruhiko Kuroda. BOJ menghentikan pembelian ETF pada Maret 2024 dan mulai melakukan penjualan pada Januari 2026. Percepatan penjualan dinilai dapat membantu meningkatkan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan, sekaligus mengurangi keterlibatan langsung bank sentral di pasar ekuitas. Keuntungan dari pelepasan aset tersebut juga berpotensi menambah penerimaan pemerintah Jepang.