
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan Jumat (30/10/2026), seiring berlanjutnya aksi jual saham teknologi di Wall Street yang menyeret indeks Nasdaq 100 mendekati wilayah koreksi teknikal.
Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur kinerja dolar terhadap sejumlah mata uang global, turun 0,2% setelah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan belanja investasi kecerdasan buatan (AI). Tekanan tersebut juga mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar satu basis poin menjadi 4,92%. Kondisi ini mencerminkan melemahnya sentimen terhadap aset teknologi Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.
Pelemahan dolar berlangsung ketika harga minyak dunia kembali melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah. Minyak mentah Brent sempat mencapai US$118 per barel setelah muncul indikasi bahwa Amerika Serikat berpotensi melanjutkan serangan militer terhadap Iran. Kenaikan harga energi tersebut memperbesar risiko inflasi dan berpotensi mempertahankan ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve. Namun, kekhawatiran terhadap prospek investasi AI dan pelemahan saham teknologi memberikan tekanan terhadap dolar melalui penurunan yield Treasury. Di pasar valuta asing, euro melemah tipis 0,1% menjadi US$1,1168, sementara Pound Sterling sempat menguat 0,4% ke US$1,3434 sebelum memangkas kenaikannya.
Sementara itu, yen Jepang mencatat penguatan terhadap dolar AS setelah pasangan USD/JPY turun 0,2% menjadi 157,38. Pergerakan tersebut terjadi setelah Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar, sekaligus memberikan indikasi bahwa inflasi mendasar Jepang telah mencapai target 2%. Pernyataan tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi prospek kebijakan moneter Jepang berikutnya. Di tengah meningkatnya tekanan saham teknologi, kenaikan harga minyak, dan perubahan ekspektasi suku bunga global, pasar valuta asing diperkirakan tetap bergerak fluktuatif. Investor kini mencermati perkembangan Nasdaq, pergerakan yield Treasury, serta potensi eskalasi konflik AS-Iran untuk menentukan arah dolar pada perdagangan berikutnya.
Sumber: Newsmaker.id