
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (30/10/2026), hingga menembus ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce. Pelemahan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak yang memperbesar kekhawatiran inflasi, serta aksi jual saham teknologi global yang berpotensi mendorong investor melepas kepemilikan emas untuk menutupi kerugian di pasar saham. Emas bahkan sempat merosot 1,4% hingga menyentuh US$3.965,36 per troy ounce, level terendah sejak pertengahan Juli.
Tekanan terhadap logam mulia semakin meningkat seiring kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent mencapai level tertinggi sejak April, sehingga memperkuat risiko inflasi global. Kondisi ini turut mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Setelah mempertahankan suku bunga pada pertemuan Rabu, bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Pelaku pasar bahkan memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 70%, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Sepanjang Oktober, harga emas telah kehilangan lebih dari 4% dan berpotensi mencatatkan penurunan bulanan kedua berturut-turut. Selain tekanan inflasi dan kebijakan suku bunga, pelemahan saham teknologi turut memperburuk sentimen pasar. Aksi jual saham perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) berlanjut untuk hari kedua setelah sejumlah laporan keuangan mengecewakan investor. Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Sloth Hansen, menilai pelemahan pasar saham berisiko memicu aksi pengurangan posisi investasi secara lebih luas, termasuk penjualan emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Sementara itu, tekanan juga melanda pasar logam mulia lainnya. Harga perak turun lebih dari 3% mendekati US$50 per troy ounce dan telah kehilangan lebih dari 16% sepanjang Oktober. Pelemahan tersebut membuat perak menghapus seluruh kenaikan yang sebelumnya tercatat sejak awal Desember. Hansen memperingatkan bahwa meskipun perak telah memasuki kondisi oversold atau jenuh jual, risiko penurunan lanjutan masih terbuka akibat aksi likuidasi posisi beli dan tekanan dari investor yang mengandalkan analisis teknikal. Kondisi tersebut bahkan berpotensi membawa harga perak menuju kisaran pertengahan US$40 per troy ounce.
Rasio emas terhadap perak juga meningkat ke level tertinggi sejak Desember, mencerminkan ketahanan relatif emas dibandingkan perak di tengah ketidakpastian pasar. Emas masih memperoleh dukungan dari sebagian investor yang mencari aset perlindungan nilai, meskipun tekanan suku bunga tetap membayangi. Pada pukul 11.27 waktu London, harga emas spot tercatat turun 1,2% menjadi US$3.971,53 per troy ounce, sementara perak melemah 3,3% menjadi US$50,42. Platinum dan paladium turut mengalami penurunan, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index terkoreksi 0,3%.
Ke depan, pergerakan emas diperkirakan tetap dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak, ekspektasi kebijakan Federal Reserve, serta stabilitas pasar saham global. Risiko inflasi yang bertahan tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan membatasi pemulihan emas. Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian geopolitik masih dapat memunculkan permintaan aset aman. Dengan harga yang telah menembus US$4.000, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada kemampuan emas mempertahankan area terendah terbarunya atau menghadapi tekanan jual lanjutan menjelang penutupan perdagangan pekan dan bulan Oktober.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id