
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (30/10/2026) dan berada di jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Penguatan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz semakin memperbesar kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan energi global, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Desember naik US$2,74 atau 2,4% menjadi US$117,62 per barel pada pukul 10.45 GMT. Sementara itu, kontrak Januari yang lebih aktif diperdagangkan menguat US$2,78 menjadi US$113,58 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut meningkat US$2,18 atau 2,1% menjadi US$104,18 per barel. Sepanjang Oktober, Brent diperkirakan mencatatkan kenaikan hampir 14%, sedangkan WTI berpotensi menguat sekitar 15%.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengungkapkan bahwa pasar minyak semakin diliputi kekhawatiran menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Sejumlah investor dan analis memperkirakan adanya kemungkinan dimulainya kembali serangan militer AS terhadap Iran setelah pemilihan berlangsung. Ketidakpastian tersebut mendorong pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan produksi dan distribusi minyak, terutama apabila ketegangan militer kembali meningkat di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena serangan menggunakan alat peledak yang dipasang melalui perahu kecil pada Jumat. Hingga laporan tersebut disampaikan, pihak yang bertanggung jawab atas serangan belum dapat dipastikan. Insiden ini kembali menyoroti kerentanan Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.
Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai berlanjutnya aksi militer di sekitar Selat Hormuz, disertai keraguan terhadap peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, menjadi faktor utama yang mempertahankan harga minyak pada level tinggi. Investor semakin mengantisipasi kemungkinan eskalasi konflik dalam beberapa pekan mendatang. Situasi tersebut membuat premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga minyak, meskipun tingkat gangguan pasokan aktual masih bergantung pada perkembangan keamanan kawasan.
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan tetap dipengaruhi oleh perkembangan hubungan AS-Iran, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, serta peluang tercapainya kesepakatan diplomatik. Apabila ketegangan meningkat dan menghambat distribusi energi, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan akibat kekhawatiran pengetatan pasokan global. Sebaliknya, meredanya konflik dan pulihnya keamanan jalur perdagangan dapat mengurangi premi risiko geopolitik. Kondisi ini membuat pelaku pasar terus mencermati setiap perkembangan di Timur Tengah menjelang penutupan perdagangan Oktober.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id