
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) kembali melemah pada perdagangan Jumat (30/10/2026), bergerak mendekati level 101,50 dan memperpanjang penurunan untuk hari ketiga berturut-turut. Pelemahan tersebut terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat di tengah aksi jual besar-besaran saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Investor mulai mengalihkan dana ke obligasi pemerintah yang dianggap lebih aman, sehingga meningkatkan harga obligasi dan menekan imbal hasilnya. Kondisi ini mengurangi salah satu faktor pendukung dolar, meskipun prospek kebijakan moneter AS masih cenderung ketat.
Tekanan terhadap pasar saham teknologi meningkat setelah laporan kinerja sejumlah perusahaan besar, termasuk Alphabet, Amazon, dan Intel, memunculkan kekhawatiran mengenai besarnya belanja investasi AI. Investor mempertanyakan apakah pengeluaran untuk pembangunan pusat data, pengembangan cip, dan infrastruktur teknologi akan menghasilkan keuntungan yang sebanding. Sentimen tersebut mendorong aksi penghindaran risiko di pasar saham global, sekaligus meningkatkan permintaan terhadap surat utang pemerintah AS. Penurunan imbal hasil obligasi kemudian turut membatasi daya tarik dolar terhadap sejumlah mata uang utama.
Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat masih menunjukkan tekanan harga yang cukup tinggi. Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) meningkat 0,5% secara bulanan pada September, menjadi kenaikan terbesar sejak Maret. Secara tahunan, inflasi PCE mencapai 3,6%, sementara inflasi inti atau Core PCE berada di 3,1%. Meskipun Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Oktober, pelaku pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga pada Desember. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan dolar belum tentu mencerminkan perubahan kebijakan The Fed menjadi dovish.
Ke depannya, pergerakan dolar AS akan sangat bergantung pada keseimbangan antara penurunan imbal hasil obligasi dan ekspektasi pengetatan moneter lanjutan. Jika tekanan pada saham teknologi mendorong investor terus memburu obligasi, DXY berpotensi menghadapi pelemahan tambahan. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat kembali mendorong kenaikan imbal hasil dan memperkuat dolar apabila pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Pelemahan DXY saat ini lebih mencerminkan perubahan arus investasi dan penurunan yield dibandingkan hilangnya kekhawatiran terhadap inflasi. Karena itu, arah dolar masih rentan berubah mengikuti perkembangan pasar obligasi dan ekspektasi suku bunga AS.