
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,31% ke level 102 pada Senin (26/10), menunjukkan penguatan greenback menjelang pekan yang dipenuhi keputusan kebijakan moneter. Dolar mendapatkan dukungan dari data ekonomi AS yang masih relatif kuat, meski sebelumnya sempat tertekan oleh aksi jual saham teknologi global.
Penguatan dolar juga terjadi ketika euro kembali berada di bawah tekanan. EUR/USD turun 0,21% ke US$1,1179, seiring kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan kawasan euro dan kondisi fiskal Prancis. Meski pasar obligasi Prancis mulai membaik setelah Moody’s mempertahankan peringkat kreditnya, risiko ekonomi kawasan masih menjadi beban bagi mata uang tunggal.
Harga energi menjadi persoalan tambahan bagi euro. Brent turun 0,78% ke US$115,81 per barel, tetapi masih bertahan dekat level tertinggi enam bulan. Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus menekan ekonomi kawasan euro yang bergantung pada impor energi.
Di sisi lain, dolar belum sepenuhnya terbebas dari tekanan. Aksi jual saham teknologi pekan lalu sempat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan menekan greenback. Namun, ketahanan ekonomi AS memberikan dasar fundamental bagi dolar untuk tetap relatif kuat dibandingkan sejumlah mata uang utama.
Perhatian pasar kini beralih ke lima keputusan bank sentral yang akan berlangsung pekan ini. The Fed, ECB, dan Bank of Japan diperkirakan mempertahankan suku bunga, sementara bank sentral Selandia Baru dan Kanada diproyeksikan menaikkan suku bunga. Perbedaan arah kebijakan tersebut berpotensi menciptakan volatilitas besar di pasar valuta asing.
Analisis Newsmaker: Dolar saat ini memiliki keunggulan dari sisi ketahanan ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan The Fed, sementara euro masih dibebani pertumbuhan yang lemah serta tekanan energi. Jika data AS tetap kuat dan The Fed mempertahankan sikap hawkish, DXY berpeluang mempertahankan momentum menuju level 102. Namun, sinyal dovish dari The Fed dapat membatasi penguatan dolar dan membuka ruang bagi euro serta mata uang utama lainnya untuk rebound. (arl)
Sumber: Newsmaker.id