
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bertahan di dekat level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Senin (24/8). Dollar Index (DXY) naik tipis 0,1% ke 98,88, setelah sebelumnya merosot hampir 1% dalam sepekan. Investor masih mempertimbangkan dampak rencana buyback Treasury AS terhadap pasar obligasi dan daya tarik greenback.
Departemen Keuangan AS berencana menggandakan pembelian kembali Treasury tenor panjang menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi untuk meningkatkan likuiditas dan menekan tekanan pada yield jangka panjang. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor karena utang pemerintah AS telah menembus US$40 triliun, sementara defisit fiskal mendekati US$1,8 triliun.
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan geopolitik. Investor menunggu rincian sanksi baru AS terhadap Iran, terutama potensi dampaknya terhadap ekspor minyak Iran dan pasokan energi global. Ketidakpastian terkait Selat Hormuz tetap menjadi risiko bagi harga minyak dan inflasi, meskipun harga minyak terkoreksi lebih dari US$1 per barel akibat aksi ambil untung.
Di pasar valuta asing, pelemahan dolar memberikan ruang bagi sejumlah mata uang regional, meskipun penguatannya masih terbatas oleh risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan AS. USD/JPY bergerak di sekitar 159, sementara dolar Kanada melemah setelah negosiasi perdagangan AS-Kanada gagal dan Washington memberlakukan tarif 50% terhadap US$20 miliar barang Kanada.
Analisis Newsmaker: dolar masih menghadapi tekanan fundamental dari kekhawatiran fiskal AS, tingginya kebutuhan penerbitan utang, dan risiko geopolitik. Namun, potensi kenaikan harga minyak akibat sanksi Iran dapat kembali memicu inflasi dan meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi, sehingga berpotensi memberikan dukungan sementara bagi dolar. Fokus berikutnya akan tertuju pada sanksi Iran, hasil Nvidia, serta pidato Kevin Warsh di Jackson Hole yang dapat menentukan arah dolar, yield Treasury, dan emas pekan ini.(yds)
Sumber: Newsmaker.id