
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Pound sterling bergerak fluktuatif dan cenderung stagnan setelah Inggris merilis data inflasi September 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan pasar. Inflasi tahunan meningkat menjadi 3,5% dari sebelumnya 3,1%, sekaligus melampaui ekspektasi sebesar 3,4%. Meski tekanan harga semakin kuat, mata uang Inggris belum menunjukkan penguatan signifikan. Terhadap yen Jepang, pound bergerak relatif stabil di sekitar level 211,45.
Tekanan inflasi juga terlihat pada indeks harga konsumen inti yang meningkat menjadi 2,8% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan perkiraan 2,7% dan angka sebelumnya sebesar 2,6%. Secara bulanan, inflasi naik 0,4%, melampaui ekspektasi 0,3%. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih bertahan di sejumlah sektor ekonomi Inggris, sehingga menambah tantangan bagi Bank of England (BoE) dalam menjaga stabilitas harga.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan Inggris yang dirilis Selasa menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan. Kombinasi inflasi tinggi dan ketahanan pasar tenaga kerja meningkatkan spekulasi bahwa BoE dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan November. Sepanjang tahun ini, bank sentral Inggris masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%.
Anggota Komite Kebijakan Moneter BoE, Megan Greene, turut memperingatkan risiko inflasi lanjutan, terutama akibat tekanan kenaikan upah yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi tersebut memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Bagi pasar valuta asing, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi mendukung pound sterling terhadap dolar AS. Namun, penguatan pound masih dapat tertahan apabila dolar AS tetap mendapatkan dukungan dari kebijakan Federal Reserve yang juga cenderung ketat.