
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10). Brent berada di US$110,39 per barel, sementara WTI mencapai US$100,92 per barel, setelah pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Pergerakan ini menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik masih kuat meski sebelumnya muncul harapan adanya kemajuan diplomasi AS-Iran.
Kekhawatiran pasokan meningkat setelah risiko terhadap jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah kembali menjadi perhatian. Laporan terbaru menyebut sedikitnya 18 kapal telah mengalami serangan dalam dua pekan terakhir, sementara ancaman terhadap infrastruktur energi Arab Saudi turut memperbesar kekhawatiran pasar.
Situasi tersebut membuat pasar minyak kembali sensitif terhadap setiap perkembangan konflik. Serangan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran terhadap sejumlah fasilitas di Arab Saudi juga menambah kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi kawasan, meski sejumlah klaim serangan belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, upaya diplomasi antara AS dan Iran masih menjadi faktor yang dapat membatasi kenaikan harga. Pertemuan pejabat Iran dan Pakistan sebelumnya sempat memunculkan harapan terhadap jalur negosiasi, tetapi laporan mengenai kesepakatan dalam waktu dekat kemudian diredam. Kondisi ini membuat investor masih sulit mengabaikan risiko gangguan pasokan.
Tekanan terhadap pasokan juga diperkuat oleh penurunan persediaan minyak mentah AS. Data American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS turun sekitar 4,9 juta barel dalam sepekan hingga 16 Oktober, memberikan tambahan dukungan terhadap harga minyak di tengah ketatnya kondisi pasar energi.
Analisis Newsmaker: Fundamental minyak saat ini masih bullish tetapi sangat volatil. Selama serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi berlanjut, premi risiko berpotensi menjaga Brent di atas US$110. Namun, setiap perkembangan nyata menuju kesepakatan AS-Iran atau pemulihan arus pasokan dapat dengan cepat memangkas premi tersebut dan memicu koreksi harga. (asd)
Sumber: Newsmaker.id