
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz serta penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Minyak Brent untuk pengiriman Desember naik 1,4% menjadi US$110,35 per barel pada pukul 11.24 waktu Singapura, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,4% ke level US$99,16 per barel. Penguatan ini terjadi setelah muncul laporan sebuah kapal tanker berukuran besar menghantam ranjau laut di Selat Hormuz, sehingga menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global.
Tekanan terhadap pasokan semakin meningkat setelah laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 4,9 juta barel pada pekan sebelumnya. Stok bensin dan bahan bakar hasil penyulingan juga dilaporkan mengalami penurunan. Jika angka tersebut dikonfirmasi melalui data resmi pemerintah AS, penurunan stok minyak mentah akan menjadi yang ketiga secara berturut-turut. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ketersediaan minyak di pasar mulai mengetat, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi kenaikan harga.
Kekhawatiran pasokan juga tercermin dari kondisi persediaan minyak global yang terus menyusut. International Energy Agency (IEA) sebelumnya memperkirakan stok minyak dunia pada akhir September berada sekitar 500 juta barel di bawah tingkat sebelum perang, sementara persediaan minyak di fasilitas penyimpanan darat mencapai level terendah setidaknya sejak 2016. Di sisi lain, data awal pelacakan kapal menunjukkan ekspor minyak non-Iran dari Teluk Persia hanya sekitar 9,1 juta barel per hari selama 20 hari pertama Oktober. Angka tersebut mengindikasikan bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz masih menghadapi hambatan, meskipun sebagian aktivitas distribusi mulai pulih.
Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak berada pada level tinggi. Serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia terus meningkatkan risiko gangguan distribusi, sementara konflik Rusia-Ukraina turut menekan pasokan global. Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump berupaya menurunkan harga energi menjelang pemilu paruh waktu November melalui sejumlah langkah, termasuk pelonggaran hambatan perdagangan energi Rusia dan kesepakatan ekspor diesel. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar karena pembicaraan damai di Timur Tengah masih menghadapi ketidakpastian.
Ke depan, harga Brent berpotensi mempertahankan penguatannya apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlanjut dan data resmi Amerika Serikat mengonfirmasi penurunan stok minyak. Secara teknikal, kawasan US$111–US$112 menjadi area resistance yang perlu diperhatikan, sementara US$108–US$109 berpotensi menjadi support awal. Jika tekanan pasokan semakin besar, Brent memiliki peluang menguji level yang lebih tinggi. Sebaliknya, kemajuan diplomasi atau pemulihan pengiriman minyak dapat memicu koreksi. Kenaikan minyak juga berisiko memperbesar tekanan inflasi global, sehingga pasar kini mempertanyakan apakah Brent akan terus melaju atau kembali tertahan oleh upaya meredakan konflik.