
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Mata uang euro bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (14/10), dengan pasangan EUR/USD bertahan di sekitar level 1,1205 pada awal sesi Asia. Penguatan euro terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan tidak akan berlanjut pada tahun depan. Meski demikian, pergerakan euro masih terbatas karena investor menunggu rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar selanjutnya.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyampaikan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan sebelum akhir 2026. Namun, ia menilai belum ada alasan kuat untuk kembali menaikkan suku bunga pada 2027. Pernyataan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan moneter yang terlalu ketat. Ekspektasi bahwa The Fed tidak akan terus menaikkan suku bunga memberikan tekanan terhadap dolar AS, sekaligus membuka peluang penguatan euro dalam jangka pendek.
Perhatian investor kini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS periode September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 3,6% dari sebelumnya 3,4%, sementara inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi diproyeksikan naik menjadi 2,5% dari 2,4% pada Agustus. Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, The Fed berpotensi mempertahankan sikap tegas terhadap suku bunga sehingga dolar AS dapat kembali menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi berpeluang melemahkan dolar dan memberikan dukungan tambahan bagi euro.
Di kawasan Eropa, penguatan euro masih menghadapi tantangan dari memburuknya kondisi keuangan pemerintah Prancis. Kekhawatiran terhadap tingginya beban utang negara tersebut semakin meningkat setelah aksi jual obligasi mendorong biaya pinjaman pemerintah ke level tertinggi dalam hampir 25 tahun. Bahkan, selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun terhadap obligasi Italia mencapai rekor tertinggi pada Jumat lalu. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kemampuan Prancis dalam mengelola anggaran dan utangnya, sehingga berpotensi membatasi penguatan mata uang euro.
Dalam jangka pendek, pergerakan EUR/USD diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi AS dan kondisi fiskal Prancis. Apabila CPI AS melampaui perkiraan pasar, dolar berpeluang memperoleh dorongan penguatan dan menekan EUR/USD kembali ke bawah level 1,1200. Namun, jika inflasi menunjukkan hasil yang lebih rendah dari ekspektasi, euro berpeluang melanjutkan penguatan seiring berkurangnya tekanan dari dolar AS. Dengan demikian, rilis CPI akan menjadi faktor utama yang menentukan arah EUR/USD, sementara risiko utang Prancis tetap menjadi penghambat bagi kenaikan euro yang lebih besar.