
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Bitcoin melemah pada perdagangan Kamis (10/9), tertekan oleh memburuknya konflik Amerika Serikat dan Iran serta tingginya yield Treasury yang mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Mata uang kripto terbesar dunia turun sekitar 1% menjadi US$78.249,6, sementara mayoritas altcoin juga bergerak di zona merah.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah harga minyak melonjak dan Brent bertahan di atas US$100 per barel. Ketegangan meningkat setelah Iran mengklaim menyerang sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat membalas dengan menghancurkan beberapa tanker minyak Iran.
Lonjakan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Jika tekanan harga tetap tinggi, Federal Reserve berpotensi mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi Bitcoin dan aset kripto lain yang sangat sensitif terhadap likuiditas serta biaya pendanaan.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun setelah rencana buyback obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS gagal menenangkan pasar. Yield yang tinggi meningkatkan daya tarik aset berbunga dan membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset spekulatif seperti kripto.
Altcoin ikut melemah. Ether turun sekitar 0,7% ke US$2.474,32, sementara XRP merosot 2,6%. Solana dan Cardano turun lebih dari 2%, BNB melemah 4,3%, Dogecoin kehilangan 5,3%, sedangkan token $TRUMP turun sekitar 10%.
Analisa Newsmaker: Bitcoin masih menghadapi tekanan selama yield Treasury tetap tinggi dan konflik Timur Tengah menjaga harga minyak di atas US$100. Kombinasi inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga ketat, dan berkurangnya selera risiko membuat ruang rebound kripto masih terbatas. Pasar kini akan sangat sensitif terhadap data inflasi AS karena angka yang lebih panas dapat kembali meningkatkan tekanan pada Bitcoin.(arl)
Sumber : Newsmaker.id