
Trending

Gold Corner
Sumber: Newsmaker.id
Resume Fundamental Emas dan Minyak
19-23 Okt 2026
Pergerakan pasar komoditas sepanjang pekan lalu menunjukkan arah yang berlawanan antara emas dan minyak mentah. Harga emas mengalami tekanan bearish yang semakin kuat akibat penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, serta meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga energi. Sementara itu, minyak Brent bergerak fluktuatif sebelum akhirnya menguat tajam, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Eskalasi serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi, ancaman gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, serta laporan tumpahan minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Di sisi lain, emas justru gagal memanfaatkan ketidakpastian geopolitik sebagai momentum penguatan karena pasar lebih mencemaskan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kondisi tersebut membuat emas sempat menembus level psikologis US$4.000 per troy ounce dan mendekati posisi terendah dalam tiga bulan.
Memasuki pekan berikutnya, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga The Fed, pernyataan kebijakan moneter, serta rilis data GDP dan inflasi PCE Amerika Serikat. Rangkaian agenda tersebut berpotensi menentukan arah dolar AS, emas, dan minyak. Jika The Fed mempertahankan sikap hawkish, tekanan terhadap emas berisiko berlanjut. Sementara itu, harga minyak masih berpeluang mendapat dukungan apabila ketegangan Timur Tengah terus meningkat dan risiko gangguan pasokan belum mereda.
Prospek Emas Sepekan: Tekanan Bearish Masih Mendominasi
Harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan bearish dalam perdagangan sepekan ke depan, setelah menutup pekan sebelumnya di level US$3.995 per troy ounce. Berdasarkan grafik harian (D1), pergerakan emas masih memperlihatkan struktur lower high dan lower low, yang mengindikasikan bahwa tren penurunan belum sepenuhnya berakhir. Kegagalan harga mempertahankan area US$4.200–US$4.400 semakin memperkuat dominasi penjual, sementara level psikologis US$4.000 kini menjadi area krusial dalam menentukan arah pergerakan berikutnya.
Secara teknikal, apabila harga emas gagal kembali bertahan di atas US$4.000, tekanan jual berpotensi membawa harga menguji area support US$3.950 hingga US$3.900. Penembusan yang berkelanjutan di bawah zona tersebut dapat membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju US$3.800. Sebaliknya, jika emas mampu melakukan rebound dan kembali menembus US$4.100, peluang pemulihan menuju area resistance US$4.200 hingga US$4.300 dapat terbuka. Namun, selama harga masih bergerak di bawah zona resistance utama tersebut, setiap penguatan berisiko menjadi koreksi sementara di tengah tren bearish yang lebih besar.
Dari sisi fundamental, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve, arah kebijakan moneter, serta data pertumbuhan ekonomi dan inflasi PCE Amerika Serikat. Sikap The Fed yang tetap hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap emas, terutama jika harga minyak yang tinggi terus memicu kekhawatiran inflasi. Dengan demikian, prospek emas untuk sepekan ke depan masih cenderung bearish dengan volatilitas yang berpotensi meningkat. Meski peluang rebound teknikal tetap terbuka, konfirmasi penguatan yang lebih meyakinkan diperlukan sebelum emas dapat keluar dari tekanan penurunan.
Prospek Minyak Brent Sepekan: Tren Bullish Masih Terjaga
Harga minyak mentah Brent (BCO) diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dalam perdagangan sepekan ke depan, setelah menutup pekan sebelumnya di level US$111,63 per barel. Berdasarkan grafik harian (D1), pergerakan minyak menunjukkan struktur higher high dan higher low, yang mengindikasikan bahwa tren bullish masih cukup solid. Pemulihan harga sejak awal Oktober hingga kembali menembus US$110 memperlihatkan dominasi pembeli, meskipun potensi aksi ambil untung tetap perlu diwaspadai setelah kenaikan yang cukup signifikan.
Secara teknikal, area US$110–US$108 menjadi zona support terdekat yang penting untuk mempertahankan momentum penguatan. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, Brent berpeluang kembali menguji resistance US$113 hingga US$115 per barel. Jika tekanan beli semakin kuat dan harga berhasil menembus US$115, peluang kenaikan menuju US$118–US$120 dapat terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support US$108 berisiko memicu koreksi lebih dalam menuju US$105 hingga US$100. Meski demikian, selama struktur kenaikan belum mengalami kerusakan yang signifikan, pelemahan masih berpotensi menjadi koreksi teknikal dalam tren bullish yang lebih besar.
Dari sisi fundamental, ketegangan geopolitik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang berpotensi menopang harga minyak. Ancaman terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, risiko gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz, serta ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran dapat mempertahankan premi risiko geopolitik. Namun, perkembangan diplomasi, perubahan persediaan minyak AS, dan prospek permintaan energi global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Secara keseluruhan, prospek Brent untuk sepekan ke depan masih cenderung bullish, dengan kemungkinan volatilitas tinggi dan koreksi jangka pendek sebelum harga menentukan arah kenaikan selanjutnya.
DISCLAIMER
Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.