
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Persediaan minyak mentah AS turun 1,9 juta barel menjadi 410,6 juta barel dalam sepekan hingga 23 Oktober. Penurunan ini jauh berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan tipis, menunjukkan kondisi pasokan minyak AS lebih ketat dari perkiraan.
Harga minyak mempertahankan penguatan setelah laporan tersebut. Brent berada di US$115,66 per barel, sementara WTI mencapai US$102,38 per barel. Penurunan stok di Cushing, Oklahoma, juga turut memperkuat sentimen pasar.
Persediaan minyak di kawasan Gulf Coast bahkan turun ke level terendah sejak Desember 2024. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan ini merupakan salah satu pusat penting penyimpanan dan distribusi minyak AS.
Dari sisi perdagangan, impor bersih minyak mentah AS turun sekitar 796 ribu barel per hari, sementara ekspor meningkat 1,4 juta barel per hari menjadi 4,85 juta barel per hari. Namun, Kpler menilai angka ekspor yang dilaporkan EIA lebih tinggi dibandingkan hasil pelacakan mereka.
Pada produk olahan, persediaan distilat yang mencakup diesel dan minyak pemanas turun 1,5 juta barel menjadi 102,8 juta barel. Penurunan tersebut lebih besar dari ekspektasi, sementara permintaan distilat meningkat sekitar 475 ribu barel per hari.
Sebaliknya, persediaan bensin meningkat 3,9 juta barel menjadi 209,2 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan. Permintaan bensin juga turun sekitar 622 ribu barel per hari, sementara tingkat utilisasi kilang AS melemah menjadi 92,8%.
Analisis Newsmaker: Penurunan stok minyak mentah dan distilat memberikan sentimen bullish karena menunjukkan tekanan pasokan masih kuat. Namun, kenaikan stok bensin dan perbedaan estimasi ekspor membuat pasar tetap perlu mencermati keseimbangan pasokan dan permintaan. Kondisi ini berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek.
Sumber : Newsmaker.id