
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah dalam konflik dengan Amerika Serikat, namun tetap membuka peluang diplomasi untuk mengakhiri ketegangan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sehari setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberikan tekanan keras terhadap Teheran.
Pezeshkian menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk “mentalitas intimidasi” dan menegaskan bahwa ancaman hanya akan memperkuat sikap Iran. Ia menolak tudingan bahwa Iran merupakan pendukung utama terorisme dunia dan mengatakan rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan dari pihak luar.
Meski memberikan respons keras, Pezeshkian beberapa kali menyampaikan bahwa Iran masih siap menyelesaikan ketegangan dengan Amerika Serikat melalui jalur negosiasi. Namun, ia menegaskan bahwa pembicaraan harus dilakukan tanpa ancaman maupun penggunaan kekuatan sebagai alat tekanan.
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menyinggung isu program nuklir Iran. Ia mengatakan Teheran tidak memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir, tetapi tetap mempertahankan hak untuk menjalankan program nuklir damai serta mengembangkan pengetahuan di bidang tersebut.
Ketegangan antara kedua negara juga kembali berpusat pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu penghubung utama perdagangan minyak dan gas global. Iran sebelumnya menyampaikan sejumlah persyaratan melalui mediator terkait kemungkinan pembukaan kembali jalur tersebut, termasuk penghentian tekanan ekonomi dan militer dari Amerika Serikat.
Perkembangan terbaru ini membuat pasar terus mencermati arah hubungan AS-Iran karena konflik tersebut telah memberikan dampak besar terhadap pasar energi global. Meskipun jalur diplomasi masih terbuka, perbedaan kepentingan antara Washington dan Teheran membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian utama investor.
Analisis Newsmaker : Pernyataan Masoud Pezeshkian menunjukkan bahwa jalur diplomasi Iran-AS masih terbuka, namun perbedaan kepentingan antara kedua negara masih menjadi hambatan utama menuju kesepakatan. Pasar akan mencermati perkembangan terkait Selat Hormuz karena setiap kemajuan negosiasi berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik dan menekan harga energi, sementara kegagalan diplomasi dapat kembali meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Bagi aset safe haven seperti emas, ketegangan yang masih berlangsung tetap menjadi faktor pendukung, meski arah pergerakan harga juga akan dipengaruhi oleh kebijakan The Fed, dolar AS, dan imbal hasil obligasi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id