
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat tajam pada awal perdagangan pekan ini setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan global. Brent sempat naik lebih dari 3% dan berada di atas US$108 per barel, sementara WTI menembus US$103 per barel. Penguatan tersebut terjadi setelah serangan terbaru terhadap Saudi Arabia dan kapal di kawasan Teluk kembali meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak.
Dari sisi fundamental, perhatian utama pasar tertuju pada Selat Hormuz dan infrastruktur energi Saudi Arabia. Penutupan pipa East-West Saudi akibat serangan drone mengurangi kemampuan negara tersebut untuk mengalihkan ekspor minyak agar tidak melalui Hormuz. Pada saat yang sama, serangan terhadap kapal di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini membuat pasar memberikan premi risiko yang lebih tinggi pada harga minyak.
Risiko pasokan juga semakin besar karena jalur Bab el-Mandeb ikut terganggu setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan aktivitas di sekitar kawasan tersebut. Dengan semakin banyak jalur strategis yang menghadapi gangguan, pasar mulai khawatir bahwa masalah minyak bukan lagi sekadar gangguan sementara, tetapi dapat berubah menjadi persoalan pasokan yang lebih panjang. Hal tersebut menjadi faktor bullish utama bagi Brent dan WTI dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi juga membawa risiko bagi permintaan. Brent yang bertahan di atas US$100 dapat meningkatkan biaya bahan bakar, transportasi, dan produksi, sehingga berpotensi menekan konsumsi energi apabila berlangsung terlalu lama. Selain itu, harga energi yang tinggi dapat meningkatkan kembali tekanan inflasi global dan membuat bank sentral, termasuk The Fed, semakin berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
Secara teknikal, Brent saat ini berada di sekitar US$107–108, sedangkan WTI berada di sekitar US$102–103. Momentum masih menunjukkan dominasi buyer setelah harga minyak mencatat kenaikan sekitar 8% dalam sepekan sebelumnya. Untuk Brent, area US$108–110 menjadi resistance terdekat. Jika mampu ditembus dan konflik terus memburuk, ruang kenaikan menuju US$115 terbuka. Sementara itu, area US$103–105 menjadi support penting. Untuk WTI, resistance berada di sekitar US$105, dengan support awal di area US$100–102.
Untuk perdagangan hari ini, bias minyak masih bullish, tetapi volatilitas sangat tinggi dan pergerakannya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Selama Selat Hormuz tetap menghadapi gangguan dan belum ada kemajuan diplomatik yang meyakinkan, tekanan beli berpotensi bertahan. Sebaliknya, apabila muncul kesepakatan yang membuka kembali jalur pelayaran atau serangan mulai mereda, premi risiko geopolitik dapat cepat hilang dan memicu aksi profit taking.
Dengan demikian, minyak saat ini lebih banyak digerakkan oleh risiko pasokan daripada faktor permintaan. Brent di atas US$100 dan WTI di atas US$100 menunjukkan bahwa pasar sedang memberikan premi besar terhadap potensi gangguan energi. Untuk jangka pendek, selama Brent mampu bertahan di atas US$103–105, tren bullish masih terjaga. Namun, semakin lama harga berada di atas US$100, semakin besar pula risiko koreksi apabila muncul berita positif dari sisi geopolitik.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id