
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (9/9), dengan Brent bergerak di sekitar US$99,4 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) berada dekat US$94,3. Kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan, terutama dari kawasan Teluk dan jalur strategis Selat Hormuz.
Dari sisi fundamental, sentimen bullish semakin kuat setelah Amerika Serikat menyerang tanker minyak Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang target militer AS di Jordan. Serangan kelompok Houthi terhadap kota dan infrastruktur energi Arab Saudi turut meningkatkan risiko konflik meluas ke fasilitas produksi dan ekspor minyak. Kondisi tersebut membuat pasar kembali memasukkan premi geopolitik yang lebih besar ke dalam harga.
Selat Hormuz masih menjadi faktor fundamental paling penting. Jalur tersebut sebelum konflik menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia, tetapi saat ini sulit memperkirakan berapa besar volume yang benar-benar mengalir karena meningkatnya penggunaan tanker dengan sistem pelacakan dimatikan. Ketidakpastian terhadap arus minyak ini membuat premi risiko kemungkinan tetap bertahan selama konflik belum mereda.
Di sisi lain, kenaikan harga masih memiliki beberapa penghambat. Arus minyak melalui Hormuz belum berhenti sepenuhnya, produsen Teluk menggunakan jalur ekspor alternatif, sementara produksi negara non-OPEC turut bertambah. Persediaan China yang relatif besar juga menjadi bantalan terhadap gangguan pasokan. Faktor-faktor tersebut menjelaskan mengapa Brent belum mampu bertahan jauh di atas US$100 meskipun risiko geopolitik meningkat tajam.
Secara teknikal, tren minyak masih menunjukkan bias bullish. Snapshot indikator WTI menunjukkan sinyal Strong Buy, dengan mayoritas moving average dan indikator momentum masih mendukung kenaikan. RSI berada di sekitar 58,7 dan MACD masih memberikan sinyal beli, meskipun stochastic sudah memasuki area overbought sehingga membuka kemungkinan pullback jangka pendek setelah reli kuat.
Untuk WTI, area US$94,20–US$94,00 menjadi support awal yang perlu diperhatikan. Jika area tersebut mampu bertahan, harga berpeluang kembali menguji US$94,50–US$94,80 sebelum membuka jalan menuju area US$95. Sementara pada Brent, support terdekat berada di sekitar US$99,10–US$98,90, sedangkan resistance berada di sekitar US$99,60, US$99,90 hingga level psikologis US$100. Penembusan kuat di atas US$100 dapat memperkuat momentum bullish dan membuka ruang kenaikan lanjutan.
Meski demikian, trader juga perlu mengantisipasi aksi ambil untung karena posisi harga sudah berada dekat resistance psikologis penting. Jika Brent gagal menembus US$100 dan ketegangan geopolitik mulai mereda, koreksi menuju area US$99 hingga US$98 berpotensi terjadi. Sebaliknya, serangan baru terhadap tanker, fasilitas energi, atau gangguan lebih besar di Hormuz dapat menjadi katalis untuk membawa harga menembus level tersebut.
Fundamental dan teknikal minyak hari ini masih cenderung bullish. Risiko pasokan dari Timur Tengah menjadi pendorong utama, sementara struktur teknikal menunjukkan pembeli masih menguasai pasar. Namun, posisi yang sudah mendekati US$100 membuat volatilitas dan aksi profit taking berpotensi meningkat. Selama Brent mampu bertahan di atas area US$98,90–US$99 dan WTI tetap di atas sekitar US$94, bias kenaikan masih relatif terjaga. Data persediaan minyak mingguan AS juga baru akan dirilis Kamis (10/9) karena jadwal tertunda libur Labor Day, sehingga geopolitik kemungkinan tetap menjadi penggerak utama harga pada perdagangan hari ini.