Saham Teknologi Seret Bursa Jepang ke Zona Merah
Newsmaker.id - Pasar saham Jepang kembali melemah pada perdagangan Selasa, dengan indeks Nikkei 225 turun sekitar 0,8% ke kisaran 66.700. Pelemahan tersebut berlangsung untuk sesi kedua berturut-turut sekaligus membawa indeks acuan Jepang menyentuh level terendah dalam satu bulan.
Tekanan pasar meningkat setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaktifkan kembali blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz, sehingga mendorong harga minyak naik tajam dan memperburuk sentimen terhadap aset berisiko.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi global. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali menaikkannya untuk mengendalikan tekanan harga, terutama jika gangguan di Selat Hormuz menghambat pasokan energi dunia.
Bursa Jepang juga mengikuti pelemahan saham teknologi di Wall Street akibat kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli kecerdasan buatan. Sejumlah saham teknologi dan AI mencatat penurunan, termasuk Kioxia Holdings sebesar 1,5%, Taiyo Yuden 2,3%, Murata Manufacturing 3,1%, SoftBank Group 2,2%, serta Fujikura yang merosot 6,7%.
Dampak terhadap Pasar :
Nikkei 225: Sentimen jangka pendek masih cenderung negatif. Tekanan dapat berlanjut apabila harga minyak terus naik dan aksi jual saham teknologi di Wall Street belum mereda.
Saham teknologi Jepang: Perusahaan semikonduktor, AI, dan produsen komponen elektronik berpotensi menghadapi aksi ambil untung lanjutan karena valuasi yang tinggi mulai dipertanyakan investor.
Sektor penerbangan dan transportasi: Berpotensi tertekan karena lonjakan harga minyak dapat meningkatkan biaya bahan bakar dan mempersempit margin keuntungan perusahaan.
Yen Jepang: Dampaknya dapat bercampur. Sentimen penghindaran risiko berpotensi mendukung yen sebagai aset aman, tetapi kenaikan biaya impor energi dapat memperburuk neraca perdagangan Jepang dan membatasi penguatannya.
Emas: Berpeluang mendapatkan dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan pelemahan pasar saham. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga global dapat membatasi kenaikan harga emas.(CP)