Saham Asia Naik, Chip Memimpin; Pasar Santai Hadapi Shutdown AS
Bursa Asia dibuka menguat mengikuti reli global yang membawa indeks dunia ke rekor baru, meski AS memasuki government shutdown pertama dalam nyaris tujuh tahun. Jepang, Korea Selatan, dan Australia kompak hijau, dengan sektor chip dan teknologi jadi penopang utama. Di Seoul, Samsung Electronics dan SK Hynix melonjak setelah meneken kesepakatan pasokan awal untuk proyek OpenAI “Stargate.” Di Wall Street, S&P 500 naik 0,3% dan Nasdaq 100 bertambah 0,5%, ikut mengangkat indeks acuan global MSCI ke puncak baru.
Di pasar obligasi, Treasury mempertahankan penguatan setelah data ketenagakerjaan swasta yang lemah memperkuat taruhan pemangkasan suku bunga The Fed bulan ini. Imbal hasil US Treasury 10-tahun turun 1 bps ke 4,09%, sementara indeks dolar Bloomberg cenderung stabil. Emas melemah tipis setelah sempat mencetak rekor tertinggi.
Shutdown menimbulkan risiko “blackout data” bagi The Fed, sehingga pelaku pasar mengandalkan rilis swasta seperti ADP yang menunjukkan penurunan tak terduga pada payrolls September—menambah keyakinan pasar terhadap dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Aktivitas pabrik AS versi ISM juga masih kontraksi untuk bulan ketujuh beruntun, sementara JOLTS menandakan permintaan tenaga kerja yang mendingin. Sejumlah ekonom, termasuk dari Berenberg, menilai The Fed masih cukup informasi untuk memberikan “insurance cut” 25 bps di Oktober meski NFP tertunda.
Walau begitu, banyak investor menilai shutdown biasanya singkat dan dampaknya terbatas ke ekonomi. Yang membedakan episode kali ini adalah wacana PHK permanen untuk pegawai federal non-esensial—sesuatu yang dinilai bisa memperpanjang hambatan di sektor publik jika benar terjadi. Di sisi lain, sebagian pelaku pasar seperti Citigroup menilai dampak ke saham baru terasa jika shutdown berlarut-larut, memicu PHK besar, atau terjadi guncangan di pasar obligasi yang merembet ke ekuitas. Platinum dan palladium ikut melemah.(Ads)
Source: Newsmaker.id