Fed Siap Pangkas? Asia Tancap Gas—Sampai Kapan?
Bursa Asia ikut menguat menyusul reli global, setelah data inflasi AS yang relatif jinak dan pelemahan pasar tenaga kerja memperkuat prospek pemangkasan suku bunga The Fed pekan depan. Indeks saham Asia MSCI menguat tujuh hari berturut-turut dan mendekati rekor baru, mengikuti S&P 500 dan Nasdaq 100 yang menutup perdagangan di level tertinggi. Indeks saham global juga mencetak rekor, sementara kontrak berjangka saham AS cenderung mendatar pada hari Jumat.
Data AS menunjukkan CPI mulai naik 0,3% bulan ke bulan dan 3,1% tahun ke tahun, sesuai perkiraan. Pada saat yang sama, klaim melonjak mingguan hingga mencapai level tertinggi hampir empat tahun. Kombinasi ini mempertebal keyakinan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada 16–17 September, dengan sebagian pelaku memproyeksikan pemangkasan lanjutan hingga akhir tahun.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS 10 tahun mempertahankan penurunan dari Kamis; hasil Australia dan Selandia Baru ikut melemah. Indeks dolar Bloomberg relatif stabil. Emas kembali stabil setelah sempat turun tipis dan sebelumnya menembus rekor tertinggi yang disesuaikan inflasi. Di sisi lain, harga minyak turun pada hari kedua karena prospek pasar yang memburuk mencakup kekhawatiran gangguan pasokan akibat geopolitik.
Dari korporasi, saham Microsoft naik di sesi selepas penutupan setelah raksasa teknologi itu dan OpenAI mencapai kesepakatan; Adobe juga menguat berkat proyeksi pendapatan yang solid. Hyundai menyebut proyek baterai di AS tertunda karena kekurangan tenaga kerja. Agenda Asia hari ini meliputi produksi industri Jepang dan inflasi India, sementara data uang beredar dan kredit baru China dapat dirilis hingga 15 September. Investor juga mencermati saham Alibaba di Hong Kong setelah ADR di AS melonjak 8% pada Kamis.(ayu)
Sumber : Newsmaker.id