Saham Asia Naik Tipis, Lelang Obligasi Jepang Jadi Fokus
Saham Asia mencatat kenaikan moderat pada pembukaan Selasa (2/9), dengan perhatian kembali ke saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan (AI) menyusul lonjakan saham Alibaba Group Holding Ltd.
Saham di Jepang dan Korea Selatan rebound setelah pelemahan pada Senin, sementara Australia melemah. Kontrak berjangka indeks saham AS turun tipis setelah pasar kas libur Hari Buruh. Minyak WTI menguat di awal perdagangan dan emas memperpanjang reli ke hari keenam—rentetan terpanjang sejak April 2024.
Obligasi Treasury AS terkoreksi di awal sesi dengan imbal hasil acuan 10 tahun naik tiga bps ke 4,26%. Lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun pada Selasa akan menjadi ujian minat investor di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ dan ketidakpastian politik yang kian besar.
Pasca aksi jual saham teknologi di Wall Street pada Jumat, reli pasar saham yang memecahkan rekor menghadapi ujian krusial bulan ini: data ketenagakerjaan, inflasi, dan keputusan suku bunga The Fed akan rilis dalam tiga minggu ke depan. Ketegangan tarif dan pertanyaan soal independensi The Fed juga menambah risiko pada September, bulan yang secara historis terlemah bagi pasar AS.
“Ambang untuk menggagalkan pemangkasan suku bunga The Fed pada 17 September tampak tinggi,” tulis ekonom Deutsche Bank AG Peter Sidorov. “Namun dengan futures fed funds kini mempric-ing lebih dari 140 bps pelonggaran hingga akhir 2026, pasar mengharapkan skala pelonggaran yang sejak 1980-an biasanya hanya terjadi saat resesi.”
Indeks ekuitas pasar berkembang membukukan sesi terbaik dalam sepekan di tengah likuiditas tipis karena libur AS, didorong saham terkait AI di Hong Kong dan Tiongkok.
MSCI EM Index ditutup naik 0,7% seiring Alibaba melesat 19% di Hong Kong—tertinggi dalam tiga tahun—setelah raksasa e-dagang Tiongkok itu melaporkan kenaikan persentase tiga digit untuk pendapatan produk AI dan lonjakan penjualan divisi cloud 26% yang melampaui perkiraan. Reli ini menandai jeda dari pelemahan pasar Asia pekan lalu setelah sektor teknologi di Wall Street terkoreksi.
Faktor lain yang diperhatikan pasar adalah Cboe Volatility Index (VIX) di 16,12, tidak jauh dari penutupan terendah 2025 di 14,22.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan India menawarkan untuk menurunkan tarifnya setelah AS pekan lalu memberlakukan bea 50% sebagai hukuman atas pembelian minyak Rusia.(yds)
Sumber: Bloomberg