Saham Asia Melemah, Ketidakpastian Ekonomi AS Picu Penghindaran Risiko
Pasar saham Asia dibuka melemah pada awal pekan ini setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan perlambatan, memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global. Indeks utama seperti Nikkei 225 Jepang turun 1,8%, sementara pasar saham di Australia dan Korea Selatan juga mencatat pelemahan. Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,2%, mencatat penurunan selama tujuh hari berturut-turut.
Kelemahan ini mengikuti penurunan tajam di Wall Street pada akhir pekan lalu. Data ketenagakerjaan AS menunjukkan peningkatan angka pengangguran dan melambatnya penciptaan lapangan kerja. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi AS tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya, bahkan setelah tiga bulan berturut-turut pasar saham AS mencatat kenaikan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam karena investor memperkirakan kemungkinan besar bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga dalam pertemuan bulan September. Beberapa analis bahkan memperkirakan penurunan sebesar 50 basis poin, dua kali lipat dari langkah biasanya. Hal ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa perlambatan ekonomi membutuhkan respons kebijakan yang lebih agresif.
Harga minyak juga ikut melemah, turun 0,6% setelah OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi yang signifikan mulai September. Kenaikan produksi ini dilakukan untuk menyelesaikan pembalikan pemotongan pasokan sebelumnya, namun menambah tekanan pada harga di tengah kekhawatiran melemahnya permintaan global akibat perlambatan ekonomi.
Sementara itu, ketegangan politik terus berkembang. Presiden AS Donald Trump mengancam penambahan tarif hingga 40% dan secara terbuka menyalahkan pejabat pemerintah atas data ekonomi yang buruk. Ia meminta pemecatan Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja dan bahkan menyerukan agar Ketua Federal Reserve diganti, menambah ketidakpastian pasar di tengah situasi ekonomi yang sudah rapuh.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id