Saham Asia Melemah, Akhiri Reli Enam Hari di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga The Fed
Pasar saham Asia melemah pada pembukaan hari Jumat, mengakhiri reli selama enam hari berturut-turu kenaikan terpanjang sejak Januari. Tekanan datang dari ketidakpastian terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, yang membuat investor cenderung menghindari risiko. Saham di Jepang dan Australia turun, sementara Korea Selatan sedikit menguat.
Di sisi lain, S&P 500 di Amerika Serikat justru mencetak rekor baru, didorong oleh penguatan saham teknologi meskipun sebagian besar saham dalam indeks melemah. Imbal hasil obligasi AS bertenor 2 tahun tetap tinggi di 3,91%, mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Kuatnya data tenaga kerja AS memperkuat pandangan tersebut, setelah klaim pengangguran turun selama enam minggu berturut-turut.
Kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid menjadi alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga. Hal ini disampaikan oleh analis dari E*Trade Morgan Stanley, yang menyebut belum ada tanda pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja. Saham teknologi tetap menjadi penopang utama pasar, terutama setelah pendapatan kuat dari Alphabet dan lonjakan harga saham Nvidia menyusul sentimen positif terhadap perkembangan kecerdasan buatan.
Sementara itu, Presiden Trump menyatakan bahwa pemecatan Ketua The Fed Jerome Powell "tidak perlu" setelah mengunjungi kantor pusat The Fed. Dari sisi geopolitik, investor memantau ketegangan baru antara Thailand dan Kamboja setelah jet tempur Thailand menyerang lokasi militer di perbatasan. Di Jepang, inflasi di Tokyo mulai mendingin untuk bulan kedua, meskipun harga pangan tetap tinggi. (ayu)
Sumber: Newsmaker.id