Rekor Lagi! Saham Teknologi Dorong Nasdaq & S&P 500 Naik ke Puncak Baru
S&P 500 dan Nasdaq Composite menguat tipis pada hari Kamis (24/7) setelah hasil kuartalan terbaru Alphabet lebih baik dari perkiraan.
Indeks pasar umum diperdagangkan relatif datar, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,1%, dengan kedua indeks mencetak rekor tertinggi intraday baru. Dow Jones Industrial Average turun 307 poin, atau 0,7%, terbebani oleh saham IBM yang merosot 9% setelah pendapatan perangkat lunak kuartal kedua-nya tidak memenuhi ekspektasi.
Alphabet naik 3% setelah membukukan laba dan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi, memperkuat kenaikan di S&P 500 dan Nasdaq.
Seiring dengan IBM, kenaikan tertahan oleh penurunan di Tesla, yang turun hampir 9% setelah pendapatan otomotif turun untuk kuartal kedua berturut-turut.
Investor juga mengalihkan perhatian mereka pada perseteruan yang sedang berlangsung antara Presiden Donald Trump dan Federal Reserve. Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Donald Trump akan mengunjungi The Fed pada hari Kamis, meningkatkan tekanan terhadap Ketua Jerome Powell.
Ini adalah pertama kalinya dalam hampir dua dekade seorang presiden Amerika akan melakukan kunjungan resmi ke bank sentral.
Saham-saham menunjukkan kinerja yang kuat pada hari Rabu, didorong oleh kemajuan dalam perundingan perdagangan.
S&P 500 naik 0,78%, mencapai rekor penutupan ke-12 tahun ini. Dow Jones Industrial Average naik 1,14%, atau 507,85 poin — sekitar empat poin dari rekor penutupan baru. Nasdaq Composite naik 0,61% dan ditutup di atas 21.000 untuk pertama kalinya.
Saham-saham juga terbantu oleh laporan Financial Times yang menyebutkan bahwa AS semakin dekat dengan kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa. Bloomberg mengonfirmasi kemajuan tersebut, mengutip para diplomat yang mendapatkan pengarahan tentang perundingan tersebut.
Kesepakatan perdagangan ini akan menaikkan tarif impor dari Uni Eropa menjadi 15%. Perkembangan tarif dapat memperkuat sentimen investor, kata Jeremy Siegel, profesor keuangan Wharton School dan ekonom senior WisdomTree. (Arl)
Sumber: CNBC