Saham Asia Menguat di Tengah Harapan Kesepakatan Dagang Baru
Pasar saham Asia kembali menguat untuk hari keenam berturut-turut, didorong oleh harapan akan lebih banyak kesepakatan dagang dari Amerika Serikat. Indeks saham regional MSCI Asia naik 0,7%, mencatatkan rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak Januari. Di Jepang, indeks saham melonjak lebih dari 1,3% saat pembukaan perdagangan, sementara indeks S&P 500 di AS ditutup naik 0,8%, mencetak rekor penutupan harian ketiga berturut-turut. Kinerja positif ini menunjukkan optimisme pasar terhadap pendekatan pragmatis Washington menjelang tenggat 1 Agustus.
Kabar bahwa AS hampir mencapai kesepakatan dagang dengan Uni Eropa, menyusul perjanjian tarif 15% dengan Jepang, menambah sentimen positif. Kesepakatan ini dinilai dapat meredam ketegangan dagang global dan mengurangi dampak buruk tarif terhadap laba perusahaan. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak akan menetapkan tarif di bawah 15% sebagai bentuk tarif "timbal balik" sebelum tenggat. Para negosiator Trump juga menyebut model investasi Jepang sebesar $550 miliar ke AS bisa menjadi acuan bagi UE.
Saham sejumlah perusahaan besar menunjukkan reaksi beragam. Saham Alphabet Inc. menguat di perdagangan after-hours setelah melaporkan pendapatan di atas ekspektasi. Namun, saham Tesla turun 4,4% setelah CEO Elon Musk memperingatkan adanya "beberapa kuartal sulit" di depan, menyusul penurunan penjualan terbesar dalam satu dekade. Saham perusahaan chip asal Korea Selatan, SK Hynix, justru naik 3,3% karena laba operasionalnya melampaui perkiraan analis.
Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga. Pedagang obligasi memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga hingga 75 basis poin tahun depan, meningkat tajam dari proyeksi 25 basis poin pada April. Presiden Trump mendesak Fed untuk bertindak lebih cepat, meski Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan "tidak perlu terburu-buru" mencari pengganti Ketua Jerome Powell. Di sisi lain, saham Nvidia naik hampir 1% setelah Trump mengatakan sempat mempertimbangkan memecah perusahaan itu demi meningkatkan persaingan chip AI, meski kemudian mengurungkan niatnya. (ayu)
Sumber: Newsmaker.id