Tarif Trump Tekan Saham Asia dan Harga Tembaga
Pasar saham Asia dibuka melemah pada hari Rabu (9 Juli 2025) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa tidak akan ada perpanjangan batas waktu pemberlakuan tarif baru yang direncanakan dimulai awal Agustus. Investor memilih bersikap hati-hati, terutama setelah Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif 50% terhadap impor tembaga, serta membuka kemungkinan tarif baru untuk produk farmasi dan negara-negara anggota BRICS, termasuk India.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga tembaga berjangka di London Metal Exchange (LME) langsung melemah setelah pernyataan Trump tersebut memicu kekhawatiran pasar logam industri. Meski harga tembaga AS sempat melonjak tajam pada sesi sebelumnya akibat spekulasi pembatasan pasokan, ketidakpastian dari sisi kebijakan perdagangan membuat investor memilih keluar dari aset berisiko. Di kawasan Asia, saham Jepang mencatat kenaikan tipis, namun saham Australia dan indeks regional Asia secara keseluruhan turun sekitar 0,1%.
Dalam pertemuan Kabinet dan pernyataan di media sosial, Trump mengatakan bahwa beberapa negara belum menunjukkan itikad baik dalam menyelesaikan perjanjian dagang cepat, sehingga dirinya siap meluncurkan tarif tambahan dalam beberapa hari ke depan. Walau sebelumnya telah dikeluarkan surat eksekutif yang sempat menunda “tarif timbal balik,” sikap terbaru Trump mengisyaratkan komitmen baru untuk mendorong rezim tarif agresif, terutama terhadap negara-negara yang dianggap tidak adil terhadap perusahaan AS, termasuk blok Uni Eropa.
Para analis menilai bahwa reaksi pasar kali ini lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Menurut Tony Sycamore dari IG Australia, pasar sudah terbiasa dengan pola ancaman dan penundaan tarif Trump, dan saat ini lebih fokus menantikan data ekonomi baru atau lonjakan inflasi sebagai penentu arah. Namun, ketegangan tarif tetap menjadi risiko utama yang berpotensi membatasi pertumbuhan global, walau belum cukup kuat untuk memicu resesi, menurut analis UBS, Ulrike Hoffmann-Burchardi. Untuk saat ini, investor direkomendasikan untuk menjaga portofolio tetap terdiversifikasi di tengah volatilitas global yang tinggi.
Sumber: (.ayu-newsmaker)