Tarif Naik tapi Belum Final, Saham Asia Rebound ?
Saham Asia mencatat kenaikan moderat pada hari Selasa (8/7), didorong oleh sinyal dari Presiden AS Donald Trump yang membuka ruang untuk negosiasi tambahan terkait tarif impor. Setelah mengumumkan tarif baru yang tinggi terhadap berapa negara Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan, Trump menyatakan bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya final dan masih bisa dinegosiasikan sebelum diterapkan secara resmi pada 1 Agustus. Hal ini memberikan sedikit kelegaan bagi investor dan mendorong rebound tipis di paso ekuitas kawasan.
Indeks saham MSCI Asia Pasifik naik sekitar 0.3%, dipimpin oleh penguatan saham Jepang dan Korea Selatan. Say sisi lain, kontrak indeks S&P 500 mencatat penurunan tipis, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pass global. Yen Jepang juga menguat setelah sebelumnya mengalami pelemahan terbesarnya dalam hampir dua bulan. Para analis menyebut pendekatan Trump sebagai strategi “wortel dan tongkat”, yaitu memberi ancaman lalu membuka ruang negosiasi untuk mendorong kesepakatan cepat dari negara-negara mitra.
Tarif baru yang diumumkan mencakup bea masuk 25% untuk barang dari Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia; Serta tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara lain seperti Indonesia (32%), Bangladesh (35%), Thailand in Kamboja (36%), serta Laos in Myanmar (40%). Meskipun kebijakan ini memicu gejolak awal di paso, optimism tetap ada bahwa negara-negara tersebut akan mencapai kesepakatan dengan AS guna menghindari perlambatan pertumbuhan. Sementara itu, ekonomi AS sendiri menunjukkan ketahanan, dengan inflasi yang terkendali dan paso tenaga kerja yang tetap solid.
Dari sisi mata uang, indeks dollar AS melemah tipis setelah menguat signifikan pada hari sebelumnya. Penguatan dollar sebelumnya dianggap sebagai respons atas keyakinan bahwa ekonomi AS dapat bertahan dari potensi dampak perang dagang. Para analis memperingatkan bahwa meski peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka, investor harus tetap waspada terhadap risiko berita utama dan ketegangan baru. Satu hal yang pasti: selama Juli, tarif-tarif baru belum akan diberlakukan, memberi ruang waktu yang krusial bagi para negosiator untuk menyelamatkan hubungan dagang sebelum batas waktu Agustus.
Sumber: (ayu-newsmaker)