Saham Asia Tertekan, Apa yang Ditunggu dari Trump?
Pasar saham Asia bergerak hati-hati di awal pekan, seiring investor menanti kepastian dari pembicaraan dagang AS yang mendekati batas waktu tarif 9 Juli. Indeks di Jepang, Korea Selatan, dan Australia mencatat penurunan kecil karena kekhawatiran bahwa Presiden Donald Trump akan memberlakukan tarif baru hingga 20% jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Sementara itu, harga minyak turun 1,1% menjadi $67,57 per barel setelah OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi yang lebih agresif dari perkiraan.
Ketegangan dagang terus membayangi pasar, dengan negosiasi masih berlangsung antara AS dan sejumlah mitra utama seperti Jepang dan Eropa. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengatakan tarif per negara akan berlaku 1 Agustus, meskipun beberapa negara mungkin diberi waktu tambahan untuk bernegosiasi. Investor dan analis memperkirakan bahwa tarif di atas 20% bisa mengejutkan pasar secara luas.
Harga minyak juga menjadi sorotan setelah OPEC+ memutuskan untuk membuka produksi lebih cepat. Langkah ini dapat menyebabkan surplus minyak mentah di akhir tahun, terutama jika permintaan global menurun akibat ketegangan dagang. Analis dari JPMorgan dan Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa turun mendekati $60 per barel pada kuartal keempat 2025.
Di tengah-tengah global, Tiongkok menambah ketegangan pengumuman dengan mengeluarkan dana baru untuk pengadaan alat medis dari perusahaan Eropa. Langkah balasan ini muncul saat Beijing berusaha memperbaiki hubungan dengan AS, menambah lapisan kompleks dalam hubungan dagang global. Para pelaku pasar kini mengamati, mengamati bagaimana arah kebijakan perdagangan dan geopolitik akan mempengaruhi pergerakan selanjutnya.
Sumber: (ayu-newsmaker)