Klaim “Deal Greenland”, Saham AS Rebound Tajam
Saham AS melesat pada Rabu (21/1) setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana tarif baru untuk Eropa. Trump mengklaim sudah ada kerangka kesepakatan terkait Greenland, sehingga tarif yang semula dijadwalkan berlaku 1 Februari ditahan. Pasar langsung menangkap ini sebagai sinyal: risiko perang dagang mereda—setidaknya untuk sementara.
Sebelum unggahan itu muncul, bursa sudah mulai menguat karena Trump juga mengatakan di Davos bahwa AS tidak akan memakai kekerasan untuk mengakuisisi Greenland. Pernyataan ini menurunkan ketakutan soal eskalasi ekstrem yang sempat bikin investor “cabut duluan” dari aset AS pada sesi sebelumnya.
Di penutupan, Dow Jones melonjak 588,64 poin (+1,21%), S&P 500 naik 1,16%, dan Nasdaq menguat 1,18%. Meski rebound-nya kencang, ketiga indeks utama masih tercatat melemah untuk pekan ini: Dow diperkirakan minus 0,6%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masih mengarah turun sekitar 1%.
Trump menulis bahwa setelah pertemuan “sangat produktif” dengan Sekjen NATO Mark Rutte, ia dan pihak terkait telah membentuk kerangka untuk Greenland dan kawasan Arktik. Ia kemudian mengatakan kepada CNBC bahwa AS punya “konsep kesepakatan” dengan Greenland, meski detailnya belum dipaparkan.
Efek domino juga terasa di pasar obligasi. Aksi “sell America” yang menekan saham dan dolar pada Selasa berbalik arah: Treasury 10 tahun menguat sehingga yield turun, sementara dolar AS ikut menguat seiring kembalinya selera risiko.
Di sektor saham, teknologi memimpin pemulihan karena investor kembali memburu saham growth yang sempat ditinggal di awal pekan, termasuk nama-nama besar seperti Nvidia dan AMD. Saham bank juga ikut naik setelah Trump menyebut rencana mendorong pembatasan bunga kartu kredit 10%, meski peluang lolosnya kebijakan itu masih dianggap belum pasti. Citigroup dan Capital One masing-masing menguat sekitar 1%. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id