Asia Menghijau Setelah Fed Potong Bunga, Tapi Sinyal Jeda Bikin Waspada
Pasar Asia-Pasifik dibuka menguat pada Kamis pagi setelah Federal Reserve melakukan pemangkasan suku bunga ketiga tahun ini. The Fed memangkas Fed Funds Rate sebesar 25 bps ke kisaran 3,5%–3,75% dan memberi sinyal bahwa siklus pemangkasan mungkin sementara dihentikan. Ketua Fed Jerome Powell menegaskan mereka kini berada di posisi yang “nyaman” untuk menunggu dan melihat perkembangan ekonomi, sambil menyoroti bahwa tarif Presiden Donald Trump justru menjadi salah satu pendorong inflasi.
Di kawasan, sentimen positif langsung tercermin pada indeks saham utama. Nikkei 225 Jepang dibuka naik tipis, sementara indeks acuan yang lebih luas, Topix, menguat sekitar 0,36%. Di Korea Selatan, Kospi naik 0,51% dan Kosdaq menguat 0,64%, mencerminkan minat risiko yang tetap terjaga. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong juga berada di atas penutupan sebelumnya, mengindikasikan pembukaan yang berpotensi positif, sedangkan S&P/ASX 200 Australia menanjak sekitar 0,79% di awal sesi.
Dari sisi komoditas, pasar juga bereaksi terhadap kombinasi suku bunga lebih rendah dan langkah stimulus baru. Harga perak menembus rekor tertinggi baru di kisaran $62 per ons, menurut data LSEG, di tengah pengumuman Fed bahwa mereka akan kembali membeli $40 miliar Treasury bills per bulan mulai Jumat. Imbal hasil obligasi jangka pendek AS pun bergerak turun, menambah daya tarik aset tak berimbal hasil seperti logam mulia. Pada saat yang sama, Fed menghapus frasa bahwa pasar tenaga kerja “tetap rendah” dari pernyataannya, mengisyaratkan fokus kini bergeser dari semata memerangi inflasi ke menopang ekonomi yang mulai melemah.
Efek keputusan Fed ini juga terasa di Wall Street dan menjadi pijakan sentimen untuk Asia. Dow Jones melonjak sekitar 1,1%, sementara S&P 500 naik 0,7% dan Nasdaq menguat 0,3% setelah pengumuman tersebut. Bagi investor kawasan Asia-Pasifik, kombinasi suku bunga AS yang lebih rendah, sinyal jeda pemangkasan, dan dukungan likuiditas lewat pembelian T-bills menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk aset berisiko, namun sekaligus menumbuhkan pertanyaan: apakah langkah ini cukup untuk menahan pelemahan ekonomi global, atau justru menandai fase baru kekhawatiran pertumbuhan ke depan?(asd)
Sumber: Newsmaker.id