Bursa Asia Naik Tipis, Semua Nunggu ‘Kode’ The Fed
Pasar saham Asia bergerak naik pelan di awal sesi Rabu, setelah Wall Street semalam lesu dan ditutup hampir flat. Indeks acuan di Australia dan Jepang menguat tipis, sementara futures saham AS nyaris tidak bergerak. Di sisi lain, saham-saham China yang listing di AS justru turun sekitar 1,4% karena pasar kecewa minimnya sinyal stimulus dari pertemuan pimpinan Partai Komunis China.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,18% setelah lelang surat utang pada hari Selasa. Indeks dolar bergerak datar dan Bitcoin sempat berbalik menghapus pelemahan awal. Sentimen utama pelaku pasar sekarang jelas: menunggu keputusan suku bunga The Fed terakhir di tahun ini, lengkap dengan dot plot (proyeksi suku bunga), outlook ekonomi, dan konferensi pers Jerome Powell.
Pelaku pasar memang hampir pasti mengantisipasi pemangkasan suku bunga seperempat poin pada Rabu ini. Namun, yang lebih penting dari sekadar “potong atau tidak” adalah sinyal: apakah The Fed akan memberi kode pemangkasan lanjutan di 2026, atau justru mulai mengarah ke jeda pemotongan? Saat ini, pasar uang hanya mem-price in sekitar dua kali pemangkasan suku bunga di 2026, lebih sedikit dibanding harapan beberapa minggu lalu. Data lowongan kerja AS (JOLTS) Oktober yang naik ke level tertinggi lima bulan juga ikut mengerek yield dari level terendah harian.
Komentar tokoh-tokoh kunci ikut membentuk ekspektasi. Analis Tom Essaye mengatakan, justru rate cut-nya sendiri bukan hal terpenting, yang lebih krusial adalah apakah The Fed terdengar masih dovish atau malah hawkish soal langkah ke depan. Kevin Hassett, kandidat kuat pengganti Powell versi Gedung Putih, menilai masih ada ruang lebar untuk memangkas suku bunga lebih dalam dari sekadar 25 bps. Sementara Tom Lee dari Fundstrat bahkan bilang kalau The Fed terdengar terlalu hawkish, Gedung Putih bisa saja segera mengumumkan pengganti Powell — dan itu bisa jadi “momen bersih-bersih” bagi pasar.
Dari Asia, pelaku pasar juga memantau pergerakan yen setelah Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengatakan BOJ semakin dekat dengan target inflasi. Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa BOJ bisa saja menaikkan suku bunga pada meeting minggu depan, membuat yen sempat menguat dan menyentuh level di bawah 156 per dolar. Secara global, pasar obligasi pemerintah tengah tertekan karena beberapa bank sentral memberi sinyal fase pelonggaran hampir selesai, seperti komentar Michele Bullock di Australia dan Isabel Schnabel dari ECB. Di tengah semua ketegangan itu, investor juga menunggu laporan kinerja raksasa teknologi seperti Oracle dan Broadcom, yang bisa ikut mengguncang sentimen pasar pekan ini.(asd)
Source: Bloomberg