Dolar Jatuh ke Terendah 4 Tahun, Yen & Risiko Shutdown Jadi Pemicu
Dolar AS makin susah bangkit dan sempat jatuh ke level terlemah hampir empat tahun pada perdagangan hari Selasa (27/1), terseret penguatan yen plus kekhawatiran penutupan pemerintahan AS jelang tenggat pendanaan 30 Januari. Tekanan ini ikut mendorong euro dan pound ke level terkuat sejak 2021, menandakan pasar mulai makin berani “mengurangi” eksposur ke aset dolar.
Di pasar FX, sorotan terbesar ada di yen. Rumor “rate check” dan spekulasi koordinasi AS–Jepang bikin pelaku pasar ogah dorong USD/JPY lebih tinggi. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga menegaskan Tokyo siap merespons pergerakan valas, dengan koordinasi dekat bersama otoritas AS.
Bloomberg Dollar Spot Index: turun hingga -0,8%, tembus di bawah 1180 (terlemah sejak Maret 2022)
USD/JPY: turun sekitar -1% ke 152,57 (terendah sejak 30 Okt)
EUR/USD: naik +0,9% ke 1,1990 (terkuat sejak 2021)
GBP/USD: naik +0,8% ke 1,3791 (terkuat sejak 2021)
USD/CHF: turun -1,4% ke 0,7658 (CHF paling “nendang” di G-10)
USD/CAD: turun hingga -0,9% ke 1,3591 jelang pertemuan BoC
Dari sisi data, sentimen konsumen AS ikut menambah beban dolar. Consumer Confidence Conference Board anjlok ke 84,5, terendah sejak Mei 2014, di bawah ekspektasi pasar—sinyal kalau kekhawatiran biaya hidup dan pasar kerja makin terasa di level rumah tangga.
Pasar sekarang nahan napas jelang putusan Fed Rabu dan konferensi pers Powell. Bukan cuma soal suku bunga, tapi juga soal kepercayaan: premi opsi jangka pendek untuk posisi “dolar lebih lemah” bahkan melebar ke level tertinggi sejak Bloomberg mulai mendata pada 2011—tanda pasar lagi serius pasang pelindung untuk skenario USD lanjut melemah. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id