Dolar Menguat Tipis Jelang Rilis Data CPI; Euro Agak Lesu
Dolar AS menguat tipis pada hari Kamis (23/10) saat para pelaku pasar menganalisis ancaman perdagangan baru antara Washington dan Beijing, menjelang rilis data inflasi penting.
Pada pukul 03:50 waktu setempat (07:50 GMT), Indeks Dolar, yang mengukur nilai dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,1% ke 98,805, bangkit setelah mengalami kerugian besar di pekan lalu.
Dolar sebagai aset safe-haven menguat sedikit karena kekhawatiran atas hubungan rapuh antara AS dan China, di tengah ketakutan akan perang dagang yang berpotensi merugikan dua ekonomi terbesar dunia. Pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor berbagai produk berbasis perangkat lunak ke China, termasuk laptop, mesin jet, dan produk teknologi tinggi lainnya, sebagai balasan atas pembatasan ekspor bahan tanah jarang terbaru oleh Beijing, menurut Reuters.
Disisi lain Presiden AS dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Korea Selatan pekan depan, dan meskipun Trump menyatakan optimisme soal pertemuan itu, ia juga mengakui bisa saja pertemuan tersebut jadi terjadi. Selain itu, Trump mengumumkan sanksi terhadap perusahaan minyak terbesar Rusia, Lukoil dan Rosneft, dengan alasan kurangnya komitmen serius Moskow terhadap proses perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina. Hal ini menyebabkan kenaikan tajam harga minyak mentah yang dihargakan dalam dolar.
Namun, menurut analis ING Francesco Pesole, langkah ini sejauh ini hanya menghapus kerugian bulan Oktober, dan diperlukan kenaikan harga Brent menuju $70 per barel dari posisi saat ini sekitar $64 untuk memberikan dukungan nyata bagi dolar. Penutupan sebagian pemerintah AS masih berlangsung, namun indeks harga konsumen (CPI) bulan September yang semula tertunda akan dirilis Jumat ini dan mungkin menjadi katalis besar berikutnya bagi pergerakan dolar. Pesole mengatakan, “Kami ulangi pandangan bahwa pemulihan dolar mulai melemah dan kemungkinan butuh penyesuaian hawkish agar terus berlanjut.
Kami tidak berharap CPI AS besok memberikan peluang itu karena konsensus memperkirakan kenaikan inti 0,3% MoM. Namun dengan 50 basis poin pelonggaran sudah sepenuhnya tercermin pada akhir tahun, setiap angka CPI yang lebih tinggi bisa memberikan dukungan bagus bagi dolar.”
Euro Melemah Sedikit
Di Eropa, pasangan EUR/USD turun 0,2% ke 1,1592, sedikit melemah setelah Gedung Putih mengumumkan sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft, dengan alasan kurangnya komitmen Moskow terhadap proses perdamaian perang Ukraina. Pesole menambahkan, “EUR/USD bergerak di sekitar level 1,160, yang menurut kami bisa menjadi penahan hari ini dan beberapa hari ke depan jika CPI AS gagal memberikan pengaruh besar terhadap narasi dolar.” Bank Sentral Eropa dijadwalkan mengadakan pertemuan pekan depan, namun perubahan besar tidak diharapkan karena inflasi tetap stabil di sekitar target 2% dan prospek pertumbuhan ekonomi zona euro cukup stabil.
Pasangan GBP/USD turun tipis ke 1,3351, dengan sterling mendapat sedikit tekanan setelah data inflasi konsumen Rabu lalu menunjukkan inflasi tetap stabil di 3,8% bulan lalu, berbeda dari ekspektasi kenaikan ke 4,0%.
Yen Tetap Melemah
Di tempat lain, pasangan USD/JPY naik 0,4% ke 152,58, mencapai level tertinggi dalam sembilan hari, dengan yen tetap lemah menyusul terpilihnya Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri Jepang pekan ini. Takaichi dikenal sebagai sosok yang cenderung pelonggaran fiskal, sehingga diperkirakan akan melonggarkan kebijakan fiskal dan moneter, memberikan tekanan pada yen. Namun Bank of Japan sudah memberi sinyal akan terus menaikkan suku bunga jika pertumbuhan dan inflasi sesuai perkiraan.
Sementara data inflasi konsumen untuk September dijadwalkan rilis Jumat ini, beberapa hari sebelum pertemuan BOJ akhir Oktober. Pasangan USD/CNY turun tipis ke 7,1229 setelah serangkaian penyesuaian kurs oleh Bank Sentral China.
Kekhawatiran atas ketegangan perdagangan AS-China kembali muncul pekan ini setelah laporan pada Rabu menunjukkan Washington mempertimbangkan pembatasan ekspor perangkat lunak ke China sebagai balasan atas pembatasan ekspor bahan tanah jarang baru-baru ini oleh China.
Pasangan AUD/USD naik 0,3% ke 0,6506 dan NZD/USD naik 0,1% ke 0,5746.(yds)
Sumber: investing.com