Dolar Stabil Usai Tertekan Data Tenaga Kerja dan Aksi Trump
Dolar AS bergerak stabil pada hari Senin setelah sempat merosot tajam di akhir pekan lalu menyusul data ketenagakerjaan AS yang mengecewakan dan pemecatan mendadak pejabat tinggi statistik oleh Presiden Donald Trump. Data Nonfarm Payrolls bulan Juli menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja jauh di bawah ekspektasi, dengan revisi besar-besaran terhadap data dua bulan sebelumnya. Kondisi ini memicu spekulasi kuat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga secepatnya, kemungkinan dimulai pada September.
Tekanan terhadap dolar semakin dalam ketika Trump memecat Erika McEntarfer, kepala Biro Statistik Tenaga Kerja, dan mengkritiknya karena diduga “memalsukan angka.” Langkah ini memperburuk ketidakpastian pasar, apalagi ditambah dengan pengunduran diri Gubernur The Fed Adriana Kugler, yang memberi Trump peluang untuk menanamkan pengaruh lebih cepat dalam dewan bank sentral. Para pelaku pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 95% bahwa pemangkasan suku bunga akan terjadi bulan depan.
Meski sempat jatuh lebih dari 2% terhadap yen dan 1,5% terhadap euro pada hari Jumat, dolar AS berhasil menguat tipis pada awal pekan ini. Terhadap yen, dolar naik 0,14% ke level 147,60, sedangkan terhadap euro dan pound, dolar juga sedikit menguat. Imbal hasil obligasi AS turun tajam, mencerminkan peningkatan taruhan pelonggaran kebijakan moneter The Fed di tengah meningkatnya kekhawatiran ekonomi.
Di sisi lain, dolar Australia dan Selandia Baru melemah terhadap greenback, dan franc Swiss tetap stabil setelah mendapat tekanan akibat tarif tinggi yang dikenakan Trump terhadap Swiss. Asosiasi industri di negara tersebut memperingatkan bahwa puluhan ribu pekerjaan bisa terancam jika kebijakan perdagangan ini terus berlanjut. Reaksi cepat pasar menunjukkan tingginya sensitivitas terhadap kebijakan ekonomi dan langkah-langkah kontroversial dari Gedung Putih.(ayu)
Sumber :Newsmaker.id