Dolar Tertekan, Damai Iran Jadi Sinyal
Indeks Dolar AS kembali melemah pada perdagangan Jumat (10/7) dan menyentuh area terendah dalam tiga minggu. DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun sekitar 0,3% ke dekat level 100,60 pada sesi Asia.
Pelemahan ini terjadi karena pasar melihat adanya tanda-tanda de-eskalasi dalam konflik Amerika Serikat dan Iran. Laporan dari Times of Israel menyebutkan bahwa seorang pejabat AS memberi sinyal Washington masih berkomitmen pada memorandum of understanding atau MoU dengan Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan tersebut sudah berakhir.
Sinyal bahwa pembicaraan teknis masih berlangsung membuat daya tarik dolar sebagai aset safe haven berkurang. Ketika risiko perang menurun, investor biasanya mulai keluar dari aset aman seperti dolar AS dan kembali mencari aset yang lebih berisiko. Kondisi inilah yang membuat greenback melanjutkan pelemahan untuk hari perdagangan ketiga berturut-turut.
Namun, penurunan dolar masih berpotensi terbatas karena harga minyak tetap tinggi akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Jika harga minyak terus naik, tekanan inflasi dapat kembali meningkat. Situasi ini bisa membuat Federal Reserve lebih berhati-hati untuk menurunkan suku bunga, bahkan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Dari sisi kebijakan moneter, Ketua The Fed Kevin Warsh juga mengumumkan anggota dari lima gugus tugas yang sebelumnya dijanjikan dalam pertemuan kebijakan Juni. Gugus tugas tersebut akan fokus pada komunikasi, kebijakan neraca, kualitas data ekonomi, produktivitas dan lapangan kerja, serta pengembangan kerangka inflasi. Pasar kini akan mencermati apakah langkah ini memberi sinyal perubahan arah kebijakan The Fed ke depan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id