Dolar AS Stabil, Yen Tertekan ke Level 40 Tahun
Indeks dolar AS atau DXY bergerak stabil di sekitar level 101,20 pada perdagangan Selasa (30/6). Investor mencerna data ekonomi Amerika Serikat yang beragam serta komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve yang kembali membuka ruang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan The Fed mungkin perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan harga tidak mereda. Pernyataan tersebut membuat dolar AS tetap mendapat dukungan, meskipun pergerakannya cenderung netral setelah sempat terkoreksi akibat aksi ambil untung akhir kuartal.
EUR/USD bergerak di sekitar level 1,1420 setelah pasar mencermati data inflasi dan penjualan ritel Jerman. Inflasi utama Jerman turun ke 2,4% pada Juni dari 2,7% pada Mei, sehingga mengurangi tekanan langsung terhadap European Central Bank. Namun, penjualan ritel Jerman justru naik 1,1% secara bulanan pada Mei setelah sebelumnya turun 0,4%, memberi sinyal bahwa konsumsi masih memiliki daya tahan.
GBP/USD bergerak datar di sekitar 1,3255 karena pasar belum menemukan arah jelas setelah komentar Gubernur Bank of England Andrew Bailey. Bailey mengatakan pembuat kebijakan tidak terburu-buru mengubah suku bunga. Ia memperkirakan inflasi Inggris masih dapat naik menuju 3,2% tahun ini, tetapi kondisi keuangan yang lebih ketat memberi waktu bagi bank sentral untuk menilai dampak kenaikan harga energi.
Tekanan paling besar terlihat pada yen Jepang. USD/JPY menembus area 162,60 dan berada dekat level tertinggi dalam empat dekade. Pelemahan yen tetap terjadi meskipun otoritas Jepang berulang kali memberi peringatan terkait kemungkinan intervensi di pasar valuta asing.
Faktor utama yang menekan yen adalah selisih suku bunga Jepang dan Amerika Serikat yang masih lebar. Dolar AS tetap menarik karena The Fed masih berpotensi mempertahankan kebijakan ketat, sementara suku bunga Jepang masih jauh lebih rendah meskipun Bank of Japan telah mulai menormalisasi kebijakan secara bertahap.
Di sisi lain, AUD/USD menguat ke sekitar 0,6920. Dolar Australia mendapat dukungan dari risalah rapat Reserve Bank of Australia yang menunjukkan bank sentral masih mempertahankan nada hawkish. RBA tetap membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi belum turun secara berkelanjutan menuju target.
Sentimen Aussie juga terbantu oleh data ekonomi China. PMI manufaktur resmi China naik ke 50,3 pada Juni, kembali masuk zona ekspansi. Sementara itu, PMI non-manufaktur membaik ke 50,2. Karena China merupakan mitra dagang utama Australia, perbaikan aktivitas manufaktur dan jasa China cenderung mendukung prospek permintaan komoditas Australia.
Secara keseluruhan, pasar valuta asing masih bergerak dengan fokus utama pada arah kebijakan bank sentral. Dolar AS tetap kuat karena The Fed masih hawkish, euro tertahan oleh meredanya inflasi Jerman, pound bergerak datar karena BoE cenderung menunggu, yen tetap tertekan oleh selisih suku bunga, sementara Aussie mendapat dukungan dari RBA dan data China.
Ke depan, investor akan mencermati data tenaga kerja Amerika Serikat, termasuk ADP Employment Change dan Nonfarm Payrolls. Jika data tenaga kerja tetap kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali meningkat dan mendukung dolar AS. Namun, jika data mulai melemah, DXY berpotensi terkoreksi dan memberi ruang pemulihan bagi mata uang utama lainnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id