Emas Bertahan Dekat US$4.000, Risiko Inflasi Masih Membayangi
Harga emas bergerak berfluktuasi di dekat level US$4.000 per ons pada perdagangan Selasa (30/06), seiring pelaku pasar mencermati sinyal yang berbeda dari Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan kedua negara masih menjadi perhatian utama karena berpotensi menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi.
Spot gold naik 0,4% ke sekitar US$4.030 per ons setelah sebelumnya sempat turun hingga 1,8% pada awal perdagangan Asia. Washington menyatakan bahwa negosiasi dengan Teheran dijadwalkan berlangsung di Doha, sementara Iran menyebut hanya akan mengirim delegasi ahli dan menolak pembicaraan langsung.
Ketidakpastian juga datang dari rencana Iran untuk tetap mengawasi lalu lintas di Selat Hormuz. Langkah tersebut mendapat penolakan dari Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara Arab Teluk karena jalur ini merupakan salah satu titik penting dalam perdagangan energi dunia.
Meski harga minyak telah turun dari lonjakan sebelumnya, pasar masih memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Analis Saxo Bank, Ole Sloth Hansen, menilai emas perlu menembus level US$4.100 sebelum dapat dianggap membentuk titik terendah jangka pendek.
Pada pukul 08.54 waktu London, spot gold tercatat naik 0,4% ke level US$4.030,30 per ons. Perak menguat 1% ke US$58,86 per ons, platinum melemah, sementara palladium naik 1%. Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index menguat 0,2% setelah melemah dalam tiga sesi sebelumnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id