• Wed, Jun 24, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

24 June 2026 16:19  |

Risk-Off Global Angkat Dolar AS

Dolar AS kembali menguat pada perdagangan Rabu (24/6) dan menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Indeks dolar AS naik hingga sekitar 101,69, menjadi level terkuat sejak Mei 2025. Penguatan ini terjadi karena investor mencari perlindungan di tengah aksi jual saham teknologi dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga.

Volatilitas pasar saham menjadi salah satu pendorong utama permintaan terhadap dolar. Aksi jual besar di sektor teknologi dan semikonduktor membuat investor mengurangi posisi pada aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, dolar AS dan obligasi pemerintah AS kembali menjadi pilihan utama karena dianggap lebih aman. Tekanan di pasar saham juga membuat investor semakin berhati-hati terhadap reli berbasis kecerdasan buatan atau AI yang sebelumnya sudah naik terlalu tinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed terus meningkat. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Juli naik menjadi sekitar 36%, jauh lebih tinggi dibandingkan 9% pada pekan sebelumnya. Untuk pertemuan September, peluang kenaikan suku bunga bahkan sudah berada di atas 70%. Ekspektasi ini muncul setelah sejumlah pejabat The Fed memberi sinyal hawkish, didukung oleh ekonomi AS yang masih kuat dan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Penguatan dolar ikut menekan sejumlah mata uang utama. Pound sterling melemah tipis ke sekitar US$1,319 setelah pejabat Bank of England, Alan Taylor, menilai sikap menahan suku bunga lebih lama masih menjadi respons yang tepat terhadap tekanan inflasi. Dolar Australia juga turun ke sekitar US$0,689, level terendah sejak awal April, karena data inflasi yang beragam membuat arah kebijakan suku bunga Australia menjadi kurang jelas.

Yen Jepang masih menjadi sorotan karena belum mampu lepas dari tekanan besar. USD/JPY bergerak di sekitar 161,69, mendekati level yang dapat membawa yen ke posisi terlemah sejak 1986 apabila menembus 161,96. Peringatan verbal dari pejabat Jepang belum banyak membantu, sementara pemerintah mulai menyiapkan langkah untuk mengelola cadangan devisa senilai US$1,3 triliun guna menghadapi potensi intervensi yen.

Meski Bank of Japan mulai membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan, tekanan terhadap yen belum mereda karena selisih suku bunga Jepang dan Amerika Serikat masih lebar. Ringkasan opini rapat BoJ bulan Juni menunjukkan beberapa anggota dewan mendukung kenaikan suku bunga lanjutan agar kebijakan Jepang lebih dekat ke level netral. Namun, selama dolar tetap didukung ekspektasi The Fed yang hawkish dan pasar masih mencari safe haven, tekanan terhadap yen dan mata uang lain berpotensi berlanjut. (arl)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar Nunggu Sinyal The Fed

Indeks dolar (DXY) bergerak stabil di atas 98 pada Rabu, tapi masih bertahan dekat level terendah dalam lebih dari dua bulan....

17 December 2025 09:14
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai