Dolar AS Melesat ke Tertinggi Setahun, The Fed Jadi Penggerak Utama
Dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun pada perdagangan Selasa (23/6), setelah investor semakin yakin bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Indeks dolar AS naik ke sekitar 101,37, didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi dan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga. Kondisi ini membuat greenback semakin kuat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Penguatan dolar terjadi setelah pertemuan The Fed pekan lalu di bawah Ketua baru Kevin Warsh dibaca pasar sebagai sinyal hawkish. Meski The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%, investor melihat peluang pengetatan tambahan mulai meningkat. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Juli naik menjadi 34,2% dari 8,5% sepekan sebelumnya. Untuk September, peluang kenaikan suku bunga melonjak menjadi 69,5% dari 29,1% pada pekan sebelumnya.
Kekuatan dolar membuat mata uang utama lain berada di bawah tekanan. Euro turun ke level terendah sejak Agustus 2025 setelah Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, meredam risiko efek inflasi lanjutan. Di saat yang sama, data terbaru menunjukkan aktivitas sektor swasta zona euro masih menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juni. Kondisi ini membuat pasar melihat perbedaan arah kebijakan yang semakin jelas antara The Fed yang lebih hawkish dan ECB yang lebih hati-hati.
Pound sterling juga melemah dalam perdagangan yang volatil setelah pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menambah ketidakpastian politik di Inggris. Investor mencermati apakah perubahan kepemimpinan akan memengaruhi rencana belanja pemerintah, kebijakan pajak, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Kekhawatiran muncul karena setiap perubahan kebijakan fiskal yang terlalu agresif dapat menambah tekanan terhadap ekonomi Inggris yang sudah tumbuh lambat.
Yen Jepang tetap menjadi sorotan karena bergerak dekat level terlemah sejak 1986. USD/JPY diperdagangkan di sekitar 161,43 setelah sempat menyentuh 161,93 pada sesi sebelumnya. Jika menembus 161,96, yen berisiko melemah ke level terburuk dalam hampir 40 tahun. Kondisi ini membuat pasar waspada terhadap potensi intervensi Jepang, apalagi Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama telah berdiskusi dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait pelemahan yen dan volatilitas mata uang.
Ke depan, arah dolar akan sangat ditentukan oleh data ekonomi Amerika Serikat. Investor menunggu data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE, PMI Juni, serta revisi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Jika data menunjukkan inflasi masih tinggi dan ekonomi tetap kuat, reli dolar berpotensi berlanjut. Namun, jika data mulai melemah, pasar bisa memangkas kembali ekspektasi kenaikan suku bunga dan membatasi penguatan greenback.(yds)
Sumber: Newsmaker.id