Reli Dolar Terhenti, Gencatan Timur Tengah Redakan Kepanikan
Dolar AS bergerak sedikit lebih lemah pada Senin (8/6), ketika perbaikan sentimen risiko mengalahkan permintaan safe haven setelah Iran dan Israel sama-sama memberi sinyal menahan serangan. Indeks dolar (DXY) turun tipis sekitar 0,1% dan bertahan di area 100,00 pada perdagangan sore waktu AS, setelah reli kuat pekan lalu.
Pelemahan ini terjadi meski DXY baru saja mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak pertengahan Maret. Lonjakan pekan lalu dipicu repricing suku bunga setelah laporan Nonfarm Payrolls AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan, membuat pasar menaikkan kembali peluang kenaikan suku bunga The Fed dan menekan obligasi, sekaligus mengangkat dolar.
Pasar kini beralih fokus ke data inflasi AS yang menjadi agenda utama pekan ini. CPI dijadwalkan rilis pada Rabu, disusul PPI pada Kamis. Data ini akan menjadi “uji nyata” seberapa besar lonjakan minyak dalam beberapa waktu terakhir mulai masuk ke harga-harga di level konsumen dan produsen, serta apakah The Fed punya alasan semakin hawkish.
Dari sisi geopolitik, eskalasi sempat memuncak akhir pekan setelah Iran dan Israel saling serang untuk pertama kalinya sejak gencatan rapuh berlaku April. Rangkaian itu disebut dipicu oleh serangan Israel ke Beirut, sebelum Iran membalas dan Israel merespons dengan serangan ke target di Iran. Trump lalu menyerukan agar kedua pihak menghentikan tembakan dan mendorong gencatan segera.
Sentimen membaik setelah media Iran menyebut operasi militer terhadap Israel dihentikan, sementara PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel menghentikan serangan ke Iran “untuk saat ini”, namun tetap mengancam akan membalas keras jika diserang lagi. Pasar membaca ini sebagai “de-eskalasi sementara”, cukup untuk menurunkan tekanan safe haven pada dolar, meski risikonya belum hilang.
Di mata uang utama lain, yen menguat tipis tetapi tetap berada di atas 160, level yang sensitif terhadap isu intervensi Jepang. Data Jepang menunjukkan GDP Q1 2026 naik 1,8% (tahunan)—lebih lemah dari estimasi sebelumnya, namun di atas konsensus. Euro naik tipis ke sekitar $1,1530, sementara pound relatif datar di $1,3340.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id