Dolar Melemah ke Terendah Dua Pekan di Tengah Optimisme Deal AS–Iran
Dolar AS membuka pekan dalam tekanan, turun ke level terendah dua pekan seiring membaiknya sentimen risk-on di pasar global. Pergeseran selera risiko ini dipicu meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan AS–Iran, yang mendorong pelaku pasar mengurangi posisi defensif pada greenback.
Indeks dolar (DXY) turun setelah menembus area dukungan 99,00 dan memperpanjang pelemahan mengikuti penguatan aset berisiko. Dalam kerangka transmisi pasar, meredanya premi risiko geopolitik dan penurunan volatilitas energi cenderung mengurangi permintaan dolar sebagai safe haven dalam jangka pendek.
EUR/USD menguat tajam ke level tertinggi beberapa hari dan kembali menguji area 1,1650, didorong aksi jual dolar AS yang meluas. Tidak ada rilis data utama dari Jerman maupun kawasan euro, sehingga pergerakan lebih banyak dipandu sentimen global dan dinamika dolar.
GBP/USD membalik dua penurunan harian beruntun dan menembus 1,3500 di tengah suasana risk-on yang lebih kuat. Pasar menanti rilis BRC Shop Price Inflation serta CBI Distributive Trades sebagai petunjuk kondisi permintaan dan tekanan harga di Inggris.
USD/JPY bergerak konsolidatif di sisi atas rentangnya dekat 159,00, mengabaikan dua penurunan harian sebelumnya. Dari Jepang, agenda mencakup rilis final Indeks Coincident dan Leading, yang biasanya dipantau sebagai sinyal arah aktivitas ekonomi.
AUD/USD melonjak dan mendekati puncak beberapa hari di sekitar 0,7180, melanjutkan tren naik setelah dua sesi koreksi. Fokus berikutnya bagi pasar Australia adalah rilis inflasi kunci pada 27 Mei, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan.
Di komoditas, WTI turun tajam dan mendekati US$90 per barel, mendekati level terendah tiga pekan, seiring pelaku pasar menilai peluang pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Pelemahan minyak memperkuat narasi meredanya premi risiko pasokan dan menekan dukungan inflasi berbasis energi.
Pelemahan dolar juga menopang emas, mendorong harga mendekati patokan US$4.600 per troy ounce. Nada yield Treasury AS yang bercampur di sepanjang kurva turut membantu pemulihan emas, karena pasar menyeimbangkan dorongan dari dolar yang melemah dengan sensitivitas emas terhadap ekspektasi suku bunga dan yield riil.(yds)
Sumber: Newsmaker.id