Dolar Tergelincir di Likuiditas Tipis, Fokus ke Hormuz
Dolar AS turun terhadap mata uang utama pada perdagangan Senin (25/5) setelah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz menekan harga minyak di bawah US$100 per barel. Namun, nada kehati-hatian tetap bertahan karena AS dan Iran sama-sama meredam ekspektasi tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
Pergerakan valas berlangsung dalam likuiditas tipis karena sejumlah pasar besar tutup untuk libur publik, termasuk di AS, Hong Kong, Inggris, dan sebagian besar Eropa. Dalam kondisi ini, headline geopolitik dan perubahan harga energi lebih cepat tercermin ke pergerakan dolar.
Terhadap yen, dolar turun 0,2% ke 158,91. Jepang juga menambah konteks domestik setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pemerintah akan membangun cadangan tambahan sekitar US$19 miliar untuk subsidi biaya bahan bakar dan meredam tekanan biaya hidup, sembari menegaskan tidak ada tambahan pinjaman secara keseluruhan untuk menenangkan kekhawatiran pasar obligasi.
Di Eropa, euro naik 0,33% ke US$1,1641 dan poundsterling menguat 0,55% ke US$1,3499. Dolar Australia naik 0,58% ke US$0,717, sementara dolar Selandia Baru bertambah 0,5% ke US$0,5874. Indeks dolar (DXY) turun sekitar 0,3% ke 98,969.
Fokus utama pasar tetap pada dinamika AS–Iran. Menlu AS Marco Rubio menyatakan akan ada “kesepakatan yang baik” atau Washington akan menangani Iran dengan “cara lain,” sementara juru bicara Kemenlu Iran mengatakan kesimpulan telah dicapai pada banyak topik dalam pembahasan memorandum, namun itu tidak berarti Teheran dekat menandatangani kesepakatan. Akhir pekan juga diwarnai sinyal campuran dari Presiden Donald Trump: pada Sabtu ia menyebut memorandum “sebagian besar telah dinegosiasikan”, tetapi pada Minggu ia menegaskan blokade AS atas kapal Iran di Selat Hormuz tetap berlaku sampai ada kesepakatan yang tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.
Dari sisi transmisi fundamental, pelemahan minyak mengurangi tekanan inflasi berbasis energi dan dapat menurunkan dukungan jangka pendek pada dolar melalui kanal ekspektasi suku bunga, meski ketidakpastian implementasi dan waktu normalisasi arus pelayaran membuat re-pricing pasar cenderung bertahap, bukan linear.
Pelaku pasar kini menanti rilis data penting pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP AS pada Selasa dan survei kepercayaan kawasan euro pada Kamis, sembari memantau perkembangan negosiasi Hormuz dan setiap pernyataan resmi yang dapat mengubah persepsi risiko pasokan energi.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id