Pasar Tunggu Risalah Fed, Dolar Mendominasi Mata Uang Global
Dolar AS masih mempertahankan penguatannya pada Rabu (20/5), seiring Brent crude bertahan di level sekitar $100 per barel, menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan perdamaian gagal dicapai. Indeks spot dolar Bloomberg naik 0,1%, melanjutkan kenaikan 0,4% dari sesi Selasa. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS 2 dan 10 tahun sedikit turun sekitar 3 basis poin, menahan pelemahan sebelumnya.
Trump menyatakan bahwa serangan AS bisa dilanjutkan dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari dorongan untuk menekan Iran mencapai kesepakatan, setelah sempat menunda aksi militer sebelumnya. Di sisi lain, pembicaraan Xi Jinping dan Vladimir Putin di Beijing menegaskan hubungan strategis antara China dan Rusia, memberi konteks geopolitik tambahan bagi pasar global.
Di pasar valuta, GBP/USD sempat turun hingga 1,3375 sebelum memangkas sebagian kerugian, terpengaruh data inflasi Inggris yang turun ke level terendah lebih dari satu tahun. Penurunan inflasi mendorong pasar untuk memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England, meski ekonom memperingatkan tekanan harga masih ada. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris 2 tahun turun 10 bps ke 4,41%.
USD/JPY stabil di 159,07, sementara Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan kesiapan intervensi untuk menopang yen. EUR/USD turun 0,2% ke 1,1584, posisi terendah sejak 7 April, dengan momentum bullish euro melemah. EUR/GBP anjlok 0,1% ke 0,8656, mencatat tiga hari penurunan berturut-turut, terlama sejak lebih dari dua bulan terakhir.
Pasar kini menantikan rilis minutes FOMC untuk melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang menjadi kunci bagi pergerakan dolar dan pasangan mata uang global lainnya. Aktivitas opsi di Eropa tercatat 70%-75% dari rata-rata, namun keterlibatan investor besar di pasar spot relatif minim.
Secara keseluruhan, dollar tetap mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi Fed yang lebih hawkish, sementara euro dan yen menghadapi tekanan dari risiko global dan intervensi pasar. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id