Dolar Melemah Tipis, Pasar Pantau Iran dan G7 Paris
Dolar AS melemah tipis pada Senin (18/5), meski masih bertahan dekat level tinggi pekan lalu setelah tekanan di pasar obligasi global mulai mereda. Pada 10:11 ET, indeks dolar (DXY) turun 0,2% ke 99,08. Euro menguat 0,2% ke US$1,1644, sementara pound naik 0,5% ke US$1,3390.
Sentimen tetap dibayangi risiko geopolitik setelah serangan drone memicu kebakaran di fasilitas nuklir Uni Emirat Arab, sementara Arab Saudi menyatakan mencegat tiga drone. Perkembangan ini menambah keraguan atas gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran. Presiden Donald Trump juga menulis bahwa “waktu semakin menipis” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai atau menghadapi potensi aksi militer AS.
Di pasar energi, Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia—dilaporkan masih efektif tertutup untuk lalu lintas tanker. Namun harga minyak sempat memangkas kenaikan dan berbalik melemah setelah media Iran melaporkan AS mengusulkan keringanan sementara sanksi minyak hingga kesepakatan final tercapai, meski belum ada konfirmasi resmi dari Washington.
Penurunan yield obligasi global setelah aksi jual tajam beberapa hari terakhir ikut mengurangi dorongan tambahan bagi dolar. Meski begitu, analis menilai penguatan dolar pekan lalu masih ditopang status safe haven, termasuk persepsi bahwa ekonomi AS sebagai eksportir energi relatif lebih terlindungi dari guncangan energi dibanding importir bersih.
Pelaku pasar pekan ini juga memantau pertemuan menteri keuangan G7 di Paris, yang diperkirakan turut membahas perang Iran. Menjelang pertemuan, Menkeu AS Scott Bessent mengatakan akan menyerukan negara-negara untuk mematuhi sanksi AS terhadap Iran. Di Asia, yen bertahan dekat titik terlemah terhadap dolar sejak 29 April, menjaga spekulasi potensi intervensi otoritas Jepang. (arl)*
Sumber : Newsmaker.id