Dolar Kembali Menguat, Didorong Risk-off dan Data AS yang Solid
Indeks dolar AS (DXY) kembali menguat pada Kamis (2/4) dan naik lagi ke atas level 100, ditopang sentimen risk-off setelah pidato Presiden AS Donald Trump meredam harapan berakhirnya perang Iran dalam waktu dekat. Trump kembali mengulang retorika agresif, termasuk ancaman serangan “sangat keras” terhadap Iran serta seruan agar sekutu “berani” mengamankan Selat Hormuz, sehingga mendorong penguatan Greenback secara luas.
Dari sisi geopolitik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons lewat surat terbuka kepada publik AS, mempertanyakan apakah perang ini sejalan dengan janji “America First” Trump. Di saat yang sama, Israel dan Iran dilaporkan terus saling melancarkan serangan rudal dan drone, sementara Teheran menilai tuntutan Washington untuk kesepakatan damai bersifat “maksimalis dan tidak rasional,” menjaga ketidakpastian tetap tinggi.
Penguatan dolar juga mendapat dukungan dari data AS yang lebih baik dari perkiraan. ADP Employment Change menunjukkan kenaikan 62 ribu pekerjaan pada Maret (di atas ekspektasi 40 ribu), sementara data Februari direvisi naik menjadi 66 ribu. ISM Manufacturing PMI meningkat ke 52,7, tertinggi sejak Juli 2022, meski optimisme headline dibayangi biaya yang lebih tinggi dan komponen ketenagakerjaan yang lebih lemah.
Fokus berikutnya adalah rilis Nonfarm Payrolls pada Jumat, dengan konsensus pasar memperkirakan penambahan 60 ribu pekerjaan setelah kontraksi 92 ribu pada Februari—data ini dipandang krusial untuk membentuk ekspektasi arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar lintas mata uang.(yds)
Sumber: Newsmaker.id